Bulan lalu kaka sempat protes ke saya, kenapa sih ada hari Sabtu dan Minggu. Dia pengen hari itu dihapus, supaya bisa sekolah tiap hari, katanya. Saya senang doang. Jadi saya nggak perlu khawatir anak kecil satu ini ngambek sekolah. Nyuruh dia siap-siap pun lebih mudah. Sering kali dia siap lebih dulu dibanding saya, yang akan nganter dia ke sekolah.
Tapi eh tapi.... Pagi ini, Kamis (10/12/15) dia bilang nggak mau sekolah. Itu dia bilang sambil sibuk menggambar di buku gambarnya yang baru dibeli. Karena saya kira alasannya dia nggak mau acara menggambarnya keganggu gara-gara dia harus siap-siap sekolah, saya usulkan dia bawa aja buku gambarnya. "Nanti di sekolah Kaka bisa gambar Optimus Prime, dan kasihliat Bu Ika (guru kelas A). Dia nggak menanggapi. Tapi nggak lama kemudian dia selesaikan juga acara menggambar itu, lalu buka celana dan menuju kamar mandi. Singkat cerita, akhirnya dia sekolah juga.
Soal mogok sekolah ini, sebenarnya pernah juga kejadian dua minggu lalu. Waktu itu saya sengaja day off kantor. Saya day off do tengah kondisi kantor yang kekurangan orang. Agak nggak enak sih sebenarnya. Tapi pertimbangan saya waktu itu, adik saya yang biasa jemput dia hari itu nggak bisa jemput karena ada acara piknik sekolah anaknya.
Hari itu juga, Kamis, ada acara semacam talkshow cara mudah menjadi orangtua di sekolah anak saya. Jadi saya sengaja day off biar bisa jemut Kaka, ikut acara di sekolah, dan santai sejenaklah. Eh... si Kaka malah nggak sekolah. Waktu itu dibujuk pun nggak mau. Jadilah hari itu kami bermalas-malasan saja. Keesokannya, Jumat, Kaka kembali bilang nggak mau sekolah. Saya cari akal supaya dia mau nggak nyuruh dia segera siap-siap sih. Saya cuma bilang, "Ya udah, mama aja yang ke sekolah Kaka." Lalu dia nanya, "Mau ngapain mama ke sekolah?" "Mau ketemu Bu Ika. Mama mau bayar sekolah Kaka," kata saya. Saya nggak berharap dia lalu mau ikut ke sekolah sih. Saya biarin aja dia dengan aktivitasnya, waktu itu main lego-legoan. Sementara saya tetap bersiap-siap ngantar dia. Selesai saya pakai baju, dia malah bilang mau ke sekolah juga. Ya udah, selamat deh hari itu. dia sekolah juga. Syaratnya, bawa mobil-mobilan. Cusss lah!
Kamis, 10 Desember 2015
Senin, 30 November 2015
Kalau Mahal, Kenapa Dibeli?
Menolak perminataan anak? Pasti itu akan terjadi. Saya sudah mengalaminya beberapa kali. Maka, sebelum melakukannya, saya banyak belajar triknya. Intinya sih, anak bakal ngerti kok, yang penting kasih alasan yang sekiranya masuk akal buat dia.
Permintaan Kaka yang sering kali saya tolak adalah beli mainan. Ada beberapa mainan yang saya kira dia nggak butuh karena udah punya banyak. Misalnya mobil-mobilan semacam hot wheel. NGgak kehitung jumlahnya. Juga dari merek lain. Sebut aja jenis kendaraannya, dari monil balap sampai pickup, dari truk molen sampai truk pemadam kebakaran, dari truk gandeng sampe truk gendong, dari sepeda motor sampai helikopter. Ada beberapa yang dia suka banget, dan kalau hilang mesti beli lagi.
Nah, ada banyak alasan yang saya pakai untuk nolak permintaan Kaka. Untungnya dia nggak pernah nolak alasan saya. Suatu kali, saya kasih alasan bahwa harga mainan yang dia mau itu terlalu mahal, apalagi dia udah punya yang sejenis. Apalagi kalau bukan mobil-mobilan? Oke, dia nurut. Diletakkannya lagi mainan itu di rak toko, Dia lalu mengambil mainan serupa yang harganya lebih masuk akal, meski dia sebenarnya udah punya yang sejenis juga. Saya izinkan. Kesian kan kalau ditolak terus.
Selang beberapa lama setelah penolakan itu, dia sering kali nanya harga barang yang saya pegang. Atau barang-barang dia yang saya beli tanpa sepengetahuan dia. "Baju ini harganya berapa?" Saya sebuut harganya. Mungkin dia belum ngerti konsep uang, maka dia nanya lagi, "Mahal nggak?" Saya jawab aja, "Mahal." Lalu keningnya berkerut. "Kalau mahal kenapa dibeli?" Nah lho.... Tapi akhirnya saya jelasin kenapa saya bei barang itu. Misalnya, karena saya butuh dan belum punya. Ah si kaka. suatu saat kamu akan mengerti. Ada barang mahal tapi pantas. Misalnya karena kamu butuh atau memang bagus. Tapi, ada juga barang yang harganya mahal tapi ya nggak pantas untuk barang itu, atau kamu sudah punya dan nggak butuh-butuh amat. Misalnya? Ya mobil-mobilan itu, Nak.
Permintaan Kaka yang sering kali saya tolak adalah beli mainan. Ada beberapa mainan yang saya kira dia nggak butuh karena udah punya banyak. Misalnya mobil-mobilan semacam hot wheel. NGgak kehitung jumlahnya. Juga dari merek lain. Sebut aja jenis kendaraannya, dari monil balap sampai pickup, dari truk molen sampai truk pemadam kebakaran, dari truk gandeng sampe truk gendong, dari sepeda motor sampai helikopter. Ada beberapa yang dia suka banget, dan kalau hilang mesti beli lagi.
Nah, ada banyak alasan yang saya pakai untuk nolak permintaan Kaka. Untungnya dia nggak pernah nolak alasan saya. Suatu kali, saya kasih alasan bahwa harga mainan yang dia mau itu terlalu mahal, apalagi dia udah punya yang sejenis. Apalagi kalau bukan mobil-mobilan? Oke, dia nurut. Diletakkannya lagi mainan itu di rak toko, Dia lalu mengambil mainan serupa yang harganya lebih masuk akal, meski dia sebenarnya udah punya yang sejenis juga. Saya izinkan. Kesian kan kalau ditolak terus.
Selang beberapa lama setelah penolakan itu, dia sering kali nanya harga barang yang saya pegang. Atau barang-barang dia yang saya beli tanpa sepengetahuan dia. "Baju ini harganya berapa?" Saya sebuut harganya. Mungkin dia belum ngerti konsep uang, maka dia nanya lagi, "Mahal nggak?" Saya jawab aja, "Mahal." Lalu keningnya berkerut. "Kalau mahal kenapa dibeli?" Nah lho.... Tapi akhirnya saya jelasin kenapa saya bei barang itu. Misalnya, karena saya butuh dan belum punya. Ah si kaka. suatu saat kamu akan mengerti. Ada barang mahal tapi pantas. Misalnya karena kamu butuh atau memang bagus. Tapi, ada juga barang yang harganya mahal tapi ya nggak pantas untuk barang itu, atau kamu sudah punya dan nggak butuh-butuh amat. Misalnya? Ya mobil-mobilan itu, Nak.
Kamis, 22 Oktober 2015
Hipertensi Saat Hamil
Hamil dan darah tinggi? Itu sesuatu hal yang perlu diwaspadai karena bisa berisiko preeklampsia, bayi kurang nutrisi, plasenta copot, dll. Dan sekarang saya yang harus waspada karena dua hal itu datang bersamaan, sekarang ini. Bagaimana ceritanya, tekanan darah saya yang biasanya rendah tiba-tiba jadi tinggi? Hohoho... saya juga nggak ngerti.
Senin, 19 Okt 2015 lalu, saya ke dokter biasa. Keluhan saya waktu itu batuk pilek. Batuknya udah mulai berdahak, agak kehiajauan warnanya. Berdasarkan pengalaman saya, kalau begini nih batpil saya akan bertahan lama. Biasanya nggak mempan dikasih obat batuk biasa, butuh antibiotik yang cuma bisa didapat dengan resep dokter.
Oke, dokter periksa saya seperti biasa. Napas saya terdengar bersih, katanya. Tapi ketika dia periksa tensi darah saya, dia agak nggak percaya. Lalu mengulanginya beberapa kali. "Tekanan darah ibu tinggi ya, 140/100," katanya, sambil tetap sibuk dengan alat tensinya. "Ini nggakbaik buat kehamilan," katanya lagi. Lalu dia menjelaskan banyak hal, termasuk kemungkinan penyebab dan risiko. Dia tanya, adakah orangtua saya yang menderita darah tinggi. "Oh ya, ayah saya," kata saya. "Hoo... ibu ini ada bakat darah tinggi. Tapi ada kemungkinan juga karena hormon kehamilan," katanya.
Jadi, karena saya hipertensi, dokter tidak berani ngasih saya obat batpil. Alasannya obat batpil bisa bikin tensi saya tambah tinggi. Dia cuma kasih antibiotik yang konon nggak bahaya buat kehamilan saya. Semoga benar. Say disuruh istirahat total, di rumah aja, selama 24 jam. Lalu besok kembali lagi buat kontrol tensi. Saya melakukan itu. Ketika kembali lagi keeskona harinya, tensi saya belum turun. "Saya nggak kasih ibu obat penurun tekanan darah, cuma saya kasih obat antioksidan," kata si dokter. Konon, antioksidan ini juga bisa menurunkan tensi, tapi kalau orang awam tahunya ini adalah obat pengencer dahak. Ya sudalah, tokh berfungsi buat ngencerin dahak gue juga kan. Gue cuma dikasih dua karena besoknya lagi gue harus ketemu dokter kandungan.
Ya sudha, akhirnya semalam gue ke dokter kandungan, meskipun jadwal kontrol gue masih seminggu lagi. tekanan darah gue udah turun jadi 130/100. Gue dikasih antioksidan untuk dua minggu, nanti setelah dua minggu kontrol lagi. Kalau hasilnya bagus, obatnya dihentikan. Tapi nggak bagus, ya terusin sampai melahirkan.
Jadi apa penyebab darah tinggi gue? Ya konon kata dokter kandungan, karena hormon. Tapi kalau benar karena hormon, biasanya satu atau dua bulan setelah melahirkan akan normal lagi. Jadi kalaupun gue dikasih obat penurun tekanan darah, bisa dihentikan. Tapi semoga sih nggak sampe pake obat penurun tekanan darah itu.
Senin, 19 Okt 2015 lalu, saya ke dokter biasa. Keluhan saya waktu itu batuk pilek. Batuknya udah mulai berdahak, agak kehiajauan warnanya. Berdasarkan pengalaman saya, kalau begini nih batpil saya akan bertahan lama. Biasanya nggak mempan dikasih obat batuk biasa, butuh antibiotik yang cuma bisa didapat dengan resep dokter.
Oke, dokter periksa saya seperti biasa. Napas saya terdengar bersih, katanya. Tapi ketika dia periksa tensi darah saya, dia agak nggak percaya. Lalu mengulanginya beberapa kali. "Tekanan darah ibu tinggi ya, 140/100," katanya, sambil tetap sibuk dengan alat tensinya. "Ini nggakbaik buat kehamilan," katanya lagi. Lalu dia menjelaskan banyak hal, termasuk kemungkinan penyebab dan risiko. Dia tanya, adakah orangtua saya yang menderita darah tinggi. "Oh ya, ayah saya," kata saya. "Hoo... ibu ini ada bakat darah tinggi. Tapi ada kemungkinan juga karena hormon kehamilan," katanya.
Jadi, karena saya hipertensi, dokter tidak berani ngasih saya obat batpil. Alasannya obat batpil bisa bikin tensi saya tambah tinggi. Dia cuma kasih antibiotik yang konon nggak bahaya buat kehamilan saya. Semoga benar. Say disuruh istirahat total, di rumah aja, selama 24 jam. Lalu besok kembali lagi buat kontrol tensi. Saya melakukan itu. Ketika kembali lagi keeskona harinya, tensi saya belum turun. "Saya nggak kasih ibu obat penurun tekanan darah, cuma saya kasih obat antioksidan," kata si dokter. Konon, antioksidan ini juga bisa menurunkan tensi, tapi kalau orang awam tahunya ini adalah obat pengencer dahak. Ya sudalah, tokh berfungsi buat ngencerin dahak gue juga kan. Gue cuma dikasih dua karena besoknya lagi gue harus ketemu dokter kandungan.
Ya sudha, akhirnya semalam gue ke dokter kandungan, meskipun jadwal kontrol gue masih seminggu lagi. tekanan darah gue udah turun jadi 130/100. Gue dikasih antioksidan untuk dua minggu, nanti setelah dua minggu kontrol lagi. Kalau hasilnya bagus, obatnya dihentikan. Tapi nggak bagus, ya terusin sampai melahirkan.
Jadi apa penyebab darah tinggi gue? Ya konon kata dokter kandungan, karena hormon. Tapi kalau benar karena hormon, biasanya satu atau dua bulan setelah melahirkan akan normal lagi. Jadi kalaupun gue dikasih obat penurun tekanan darah, bisa dihentikan. Tapi semoga sih nggak sampe pake obat penurun tekanan darah itu.
Kamis, 01 Oktober 2015
Halo dr SpOg
Akhirnya semalam, Rabu, 30 September 2015, saya memutuskan ke dokter. Awalnya saya mau ke Bunda Margonda karena ngerasa udah familiar dengan rumah sakit itu. Saya udah sempat mendaftar untuk konsul dengan dr Dian Purnama. Tapi... mengingat biaya yang akan dikeluarkan besar banget buat ukuran saya (saya memperhitungkan konsul, obat, dan USG sekitar 600 ribu, lalu tes lab Rp 400 ribu) maka saya memutuskan ke klinik dekat rumah aja.
Klinik ini sebenarnya juga udah familiar buat saya. Namanya Medisca, di jalan RTM menuju Pondok Duta, Kelapa Dua, Depok. Klinik ini langganan saya kalau saya atau Kaka sakit ringan. Dokter umumnya namanya dr. M.J. Fransisca. Meski mukanya kelihatan nggak ramah, tapi saya suka dengan cara kerjanya. Dia periksanya detail, bukan cuma denger detak jantung melalui stetoskop aja. Dia juga ngejelasinnya rinci. Ibu saya pernah konsul telinga, dan si dokter sampai bikin gambar telinga plus dalem2nya buat ngejelasin. Saya pun mempromosikan si dokter ini ke adik dan ibu saya. Dan mereka juga cocok.
Kalau dokter kandungannya, terang aja saya belum coba. Tapi adik saya pernah, untuk periksa benjolan di payudaranya. Adik ipar saya juga pernah, buat konsul kehamilannya yang kemarin abortus dan yang sekarang baru 7-8 minggu. Tapi, akhirnya SpOg di klinik jugalah yang saya pilih. Namanya dr. Samson Chandra, SpOg. Konon, si dokter SPoG ini adalah suami dr. Fransisca. Selain praktik di Medisca, dia juga dokter konsul di Permata Medika dan Meilia Cibubur.
Sebelum saya memutuskan konsul dengan dr. Samson, saya crai informasi dulu dong di mbak Google. Nggak terlalu banyak informasi yang saya dapat, nggak kayak dr. Maman, dr. Tofan, atau dr. Dian. Saya nemu artikel dari Okezone yang narsumnya dia, tentang tanda-tanda ehamilan. lalu ada juga tanya-jawab di Republika, narsumnya juga dia. Kalau di blog-blog atau di forum, belum banyak yang ngomongin. Jadi, saya nggak bisa dapat gambaran jelas tentang dokter ini.
Dokter ini praktik di Medisca setiap Senin-Rabu-Jumat, pukul 20.00-22.00. Sabtu jam 9-11 pagi. Nah, karena waktu itu Rabu, dan jadwal si dokter ini malam, maka saya sengaja pulang cepat dari kantor. Biar sempat leha-leha di rumah, lalu berangkat ke klinik. Jam 8 kurang dikit saya pun berangkat. diantar suami dan si Kaka. Nggak sampai 10 menit, saya pun sampai di klinik itu. Ketika masuk, udah ada seromobongan ibu dengan perut membuncit, ditemani suami-suami mereka, duduk manis di ruang tunggu. Saya curiga, jangan-jangan saya dapat urutan terakhir. Dan bener kan, ketika mendaftar, saya dapat urutan 10 dari 11 pasien yang konsul malam itu.
Urutan ke-10, dapat giliran jam 10 lewat dikit. Saya pun masuk ke ruang praktiknya. Bagus. Mungkin karena bangunan klinik ini juga baru, dan karena ini klinik sendiri, mungkin dia sendiri juga yang ngerancang ruangannya. Sedikit lebih bagus dari ruang konsulnya Bunda lah. Di ruangan ini dia punya alat USG dengand ua monitor, satu untuk dia dan satu untuk pasien yang ditaro di tembok. Jadi ketika dia meriksa, pasien juga bisa liat. Di Bunda, ada beberapa ruangan yang layarnya cuma untuk dokter aja.
Pertanyaan pertama si dokter ketika saya masuk adalah: "Ini kehamilan yang keberapa?" Saya jawab. "Yang pertama ini?" katanya sambil nunjuk Kaka yang ikutan masuk. Saya jawab lagi. Lalu pertanyaan berikutnya pun mengalir, mulai dari persalinan pertama itu tahun berapa, normal apa sesar, kenapa sesar, di mana persalinannya, dibantu dokter siapa, kenapa milih rumah sakit yang sebenarnya agak jauh itu, dan pertanyaan-pertanyaan standar dokter kandungan lainnya seperti kapan hari pertama haid terakhir, dll.
Dokter berkulit putih khas Asia Timur ini agak ramah, nggak terburu-buru juga. Setelah puas bertanya-tanya, dia minta saya naik ke tempat tidur untuk diperiksa. Dia nggak pake suster lho. Setelah menekan-nekan perut saya dengan alat USG, saya bisa melihat si kecil ini di dalam perut sini. Dia nggak ngomong sama sekali. Baru ketika hampir selesai dia bilang, "Ini janinnya, ini kepalanya dan ini badannya. Usianya udah 9 minggu 2 hari," katanya. Lalu dia cetak hasil USG. Dua kali. Satu untuk dia simpan di berkas pasien saya yang disimpan di klinik, satu lagi untuk saya bawa pulang. Oh ya, meski layanannya dokternya kayak di rumah sakit yang lumayan oke, sayangnya kita nggak dibekalin buku pasien yang bisa dibawa pulang kayak di Bunda, HGA, atau Hermina. Jadi, ya udah, saya cuma bawa pulang foto USG tadi aja.
Saya di dalam nggak terlalu lama, mungkin sekitar 20 menit. Saya dibekalin folic acid dan antimual. Saya sempat bilang bahwa saya minum folamil genio. kata dia itu juga oke, malah lebih lengkap. Cuma, apa saya nggak apa-apa? nggak mual? Oh terang saya mual. Dan saya baru tau, folamil ini, kata si dokter, bikin mual. Saya sih nganggapnya mungkin di trimester pertama aja. Itu wajar kok. Waktunya bayar. Sebelum ke situ, saya tanya adik ipar, berapa biaya yang dia keluarin untuk satu kali konsultasi dan obatnya. Ternyata cuma Rp 163 ribu. Maka saya nggak kaget-kaget amat waktu saya dikasih tagihan Rp 175 ribu. Cuma suami aja yang agak kaget, murah banget katanya. Padahal udah dapat pelayanan yang lumayan oke, USG dan diprint pula.
Senin, 28 September 2015
pebedaan pertama dan kedua
Setiap kehamilan itu memang berbeda. Itu bukan teori lho. Dulu, ya. Ketika saya bekerja di majalah Mother&Baby, saya banyak dengar cerita itu dari ibu-ibu pembaca. Dan sekarang saya mengalami sendiri. Uhuuk! Iya, kehamilan kali ini berasa beda banget. Entah karena usia juga... (Eh saya menjelang memasuki usia lampu kuning untuk hamil), atau karena saya sekarang lebih manja aja (dulu kan nggak pake asisten buat di rumah, sekarang pake), atau karena memang beda aja.
Usia kehamilan saya sekarang sekitar 8 minggu. Dan masih belum ke dokter. Soal dokter ini, saya bakal cerita lagi. Dan saya mual. Saya gampang capek. Saya emosional. Saya bla bla. (Lalu teringat pada kehamilan pertama yang super duper jagoan). Tapi entah kenapa saya kali ini lebih santai. Misalnya ya itu tadi, sampe usia kandungan segini belum juga ke dokter. Mungkin karena berasa beberapa di antara hal-hal yang perlu saya ketahui itu udah saya ketahui.
Kedua, saya nggak lagi minum susu hamil setelah tahu bahwa semua susu sama. Cuma komersialisasilah yang bikin ada susu khusus ibu hamil, khusus ibu menyusui, de el el.
Ketiga, sekarang kerjaan saya nggak sesantai dulu.... harus ke kantor tiap hari dan jaraknya lumayan jauh. Nah, mungkin ini juga yang bikin saya gampang capek.
Dan keempat, banyak faktor yang bikin saya lebih emosional. terutama di keluarag kecil saya sih. Banyak hal ingginnya saya ubah tapi nggak berhasil, dan banyak hal yang pengennya tetap tapi ternyata berubah.
Senin, 21 September 2015
Dicecar Cacar
Tepat dua pekan Kaka izin nggak sekolah. Alasannya, sakit, cacar sih tepatnya. Virus yang bikin kulit orang bintil-bintil berisi air itu menyerang Kaka sekitar minggu pertama September. Awalnya saya melihat ada luka di mukanya, seperti kulit terbuka, ketika bangun tidur. Saya kira itu karena Kaka nggak sengaja mencakar kulitnya sendiri waktu tidur. Esoknya, muncullah bintil-bintil berisi air itu. Di punggung, di tangan, di kaki, dan di wajah tentunya.
Untungnya cacar air zaman sekarang nggak ganas. Kaka hampir dibilang nggak panas. Pas malam pertama aja dia agak hangat, mungkin sekitar 37,5. tapi besoknya adem lagi, seterusnya sampai akhirnya kemarin sembuh. Saya pun tak ke dokter secara resmi. Cuma konsultasi ke sepupu yang memang dokter, yang lagi main ke rumah. Katanya, ke dokter mana pun nggak bakal dikasih obat. Paling dikasih imboost atau multivitamin lain untuk memperkuat daya tahan tubuh dan bedak salisil. Kalau panas, paling dikasih obat penurun panas. Maka, tana ke dokter, saya beli aja itu secara bebas. Kaka memang nggak panas lagi, maka saya nggak kasih obat panas. Biarin aja dia main seperti biasa di rumah. Cuma saya usahakan minim kontak dengan orang lain, termasuk adik sepupu teman mainnya sehari-hari. Jadi, si Kaka dikurung aja di rumah.
Pernah suatu hari, pertengahan pekan kedua izin, Kaka kangen sekolah. Saya pun mengantarnya. Awalnya nggak masalah. tapi begitu saya pulang, sebuah pesan singkat masuk di ponsel saya. Isinya, saya diminta ke sekolah untuk membicarakan kondisi Kaka yang kayaknya belum sehat benar. Bukan persoalan Kakanya, Kaka sih udah siap sekolah, tapi persoalan teman-temannya yang takut ketularan. Karena, konon cacar itu akan menular ketika masa menjelang sembuh. Hari itu Kaka tetap sekolah, tapi keesokan harinya izin lagi sampai tadi. Ah semoga nggak sakit lama lagi ya...
Kamis, 03 September 2015
Baju Hamil? Nggak Deh
Ada beberapa momen yang bisa dijadikan buat belanja baju baru, lebaran, ulang tahun, pernikahan saudara, dan... kehamilan. Iya dong... hamil berarti perut menggendut, paha melebar, kadang-kadang dada juga membesar. Nah, baju-baju lama nggak mungkin bisa nutupin segala sesuatu yang memebsar itu kan...
Biasanya, orang hamil ya belanja baju hamil. Itu lho... baju-baju yang bagian perutnya lebar, dress gaya babydoll, atau kalau celana, celana yang pinggang karet atau tak berpinggang karena bagian pinggang ditambahin bahan supaya bisa nampung perut dan karetnya dipindahin ke atas. Tapi ingat.. itu cum bisa dipake selama hamil, gak sampe sembilan bulan.
Tapi buat gue, baju hamil itu nggak banget. Bikin gue kelihatan tambah tua, tambah gendut, tambah... yang nggak bagus-bagus deh. Apalagi gue yang pendek gini. Hamil Kaka dulu pun gue nggak beli baju hamil. Yanggue pake adalah baju-baju yang elastis, jadi bisa mengakomodasi perut gue yang membuncit, atau baju-baju yang memang longgar. Kalau celana? Ya terang aja, yang ini sih nggak bisa diakalin lagi. Bisa aja sih gue nggak usah pake celana, dress aja. kan banyak tuh dress (bukan dress hamil) yang memang bagian perutnya longgar. Tapi buat gue dress itu nggak praktis karena gue harus turun naik kereta, ojek, atau bus, pakai dress.
Nah, kali ini juga begitu. Oke gue butuh baju baru, jugacelana baru buat kehamilan kali ini. tapi bukan baju hamil ya....
Langganan:
Postingan (Atom)