Selasa, 25 Februari 2014
Main sama teman
Tiba-tiba saya dapat kiriman foto kaka yang sedang main di rumah bu rt. oleh bu rt. Awalnya saya nggak kenal anak yang di dalam fotoitu. Apalagi, keterangannya hanya, "sedang main". tanpa ada kata kaka. No telp pengirim pun tidak dikenali. Tapi, saya mengenali latar foto itu. Tembok hijau dengan banyak stiker dan coretan tak beraturan.
Stiker dan coretan itu kerasi anak bu rt. Bu RT punya dua anak, yang pertana usianya nggak beda jauh dengan si kaka. mungkin hanya setahun lebih sedikit. Yang kedua, sekitar 7 bulanan bedanya, lebih muda dari kaka. Di rumah bu rt banyak mainan. Itu sebabnya kaka senang sekali main dis itu. Apalagi ada dua anak sepantaran yang bisa diajak main. "Kata mbaknya, kaka maunya main jauh-jauh," bu rt bilang. Pernah suatu kali, kaka hilang. Setelah semua orang sibuk mencarinya, ternyata dia ada di rumah bu rt itu. Mungkin saya juga pernah nulis.
Saya senang kaka puany teman sepantaran di sekitar rumah, tanpa harus ikut play group. Anak kecil, di kompleks saya itu memang langka. Sama langkanya dengan elpiji menjelang kenaikan harga. Itu memang kompleks lama. Keluarga yang tinggal di situ pun keluarga yang sudah lama.Jadi anak-anak mereka sudah besar. Kalaupun ada anak kecil, biasanya itu penghuni baru dari keluarga baru yang beli rumah 2nd. Ada beberapa juga yang merupakan cucu dari penghuni lama. Ah, itulah kekurangan kompleks saya ini. Meskipun letaknya dekat margonda, anak saya atau saya susah menemukan teman sepantaran. Beda dengan kompleks teman-teman saya yang tergolong baru.
Kenapa butuh teman? Kan udah ada anak, suami, atau keluarga yang lain. Siapa punbutuh teman. Buat saya, ada hal-hal yang hanya bisa dibagi dengan teman, bukan dengan suami atau anak. Begitu juga kaka. Kalau sekadar untuk main, kaka nggak akan kekurangan teman. Meskipun saya dan suami bekerja, ada ibu syaa, si mbak, adik syaa, atau ponakan-ponakan saya yang rumahnya cuma selemparan kolor. Tapi, teman tetap berbeda. Teman mengajarkan anak untuk bisa berinteraksi dengan anak-anak seusianya, berkomunikasi, bertoleransi, bersaing secara sehat, percaya pada orang lain, dan banyak lagi. Kemampuan ini bakal penting buat kaka nantinya. Apalagi anak laki-laki. Konon, anak laki-laki butuh punya sahabat, seperti kata tulisan ini.
Sebenarnya teman bisa didapat dari mana saja. Cuma kalo di perkotaan, agak lebih sulit buat anak-anak. Gimana mau main kalau anak-anak nggak dizinin keluar? Banyak alasan tentu, bisa karena takut hilang, diculik, kecelakaan karena banyak kenadaraan melintas, dll. Bayangin kalo di kampung, anak seumuran kaka udah bebas berkeliaran. Emaknya mau pergi nggak perlu titip ke orang. Nggak perlu juga ada pengasuh. Bukannya nggak ada jaminan bebas hilang atau bebas kecelakaan. cuma, di kampung, semua orang saling jaga. Jadi kalau mereka udah tau anak itu adalah bagian dari kampung itu, ya bakal di jaga.
Seorang anak seumuran kaka, di kampung ibu saya di lampung sana, begitu. Ibu saya selalu antusias cerita tentang anak itu, hafiza namanya. Kalau ibu saya baru pulang kampung, cerita tentang anak itu begini, "si fiza, bangun tidur dia langsung keluar rumah. bawa nasi sepiring. emaknya masih tidur tuh. Nanti dia main sendiri, makan sendiri. terus kalau pipis, dia buak celana sendiri. Emaknjya udah nggak ngurusin lagi. Kalau emaknya bangun, mau ke pasar, ya udah pergi aja. nggak nyariin anaknya dulu. Si fiza makan di mana aja, bisa di rumah si a, si b, atau si c. pokoknya dia gagah."
Ah, kaka tentu nggak begitu. Jauh banget bedanya. kaka, keluar dikit aja, nggak pake sendal, kukunya langsung hitam, gompel-gomple, bahkan ada yang kebuka. Kalau main jauh sedikit aja, nanti ada tetangga yang teriakin, "mbak... itu anaknya ke sana". Makanya, si kaka nggak bisa jauh-jauh dari rumah.
Rabu, 16 Oktober 2013
Perjalanan Malam
Dua pekan ini saya bolak-balik ke Lampung. Terakhir adalah akhir pekan lalu, bersamaan dengan libur Idul Adha. Saya berangkat siang, terlalu siang. Dan memperkirakan sampai rumah di Lampung sudah malam. Saya tahu, Kaka belum pernah jalan malam dengan menggunakan angkutan umum, dari ojek, angkot, bus, kapal laut, danberakhir di ojek lagi. Apalagi, sehari sebelumnya, Kaka sempat panas, kata si pengasuhnya.
Tapi saya yakin, perjalanan kali ini akan lancar. Benar kan, bus yang lamban dari Kp Rambutan menuju Merak memaksa kami harus naik kapal jam 19.00, dan baru berangkat setengah jam berikutnya. Nenek Kaka sudah menanti di Merak. Sampai di Bakauheni sudah jam 10.30. Terlalu larut memang untuk naik ojek selama 30 menit. Tapi saya nekad. Ibu saya pun nggak khawatir. Digendong ibu saya, akhirnya kami meluncur dengan motor bebek menembus malam.
Kaka nggak kenapa-napa. Mungkin saya lebai memperkirakannya. Selama di Lampung, Kaka juga aktif luar biasa. Main bola di siang hari bolong. Ke laut sore-sore saat angin bertiup kencang. Berenang di pasir. Ah, itu surga buat Kaka.
Kembali ke Depok, kami juga melakukan perjalanan malam. Gara-garanya, saya ogah jalan sendiri. Adik saya, yang kebetulan pulang satu jam untuk bawa titipan daging kurban, akhirnya menjadi teman saya. Jam 20.00 kami kembali meluncur dengan ojek. Persiapan saya memang tidak terlalu baik untuk perjalanan kali ini. Kaka memakai celana pendek, padahal udara cukup mengancam. Kaka juga sedikit makan. Tapi saya perbanyak susu biar perutnya terisi penuh sehingga tak ada tempat untuk angin.
Perjalanan kali ini lebih larut lagi. Saya mungkin agak kejam. Sampai di merah tepat tengah malam. Saya agak khawatir bus ke kp Rambutan telah habis. Tapi, di terminal rupanya masihtersedia banyak. Kami naik bus yang tidak biasa. Armada namanya. Bus ini berkursi dua-dua. Masih baru pula. Ruang agak lega sehingga kaka juga bisa duduk sempurna di kursi untuk berdua itu. Sepanjang jalan, Kaka nyaris tidak tidur. Dia terlalu gembira melihat kapal-kapal di lautan, bus-bus dan truk di jalan tol. Saya yang mengantuk, terpaksa menemaninya ngobrol. Tapi menjelang Jakarta, Kaka akhirnya menyerah pada kantuknya. Dia tidur lelap di gendongan saya. Di tengah lelapnya, kami pun tiba. Pukul 02.30 waktu itu. terminal Kp rambutan masih ramai oleh orang-orang yang baru tiba dariluar kota. Angkutan umum, bus, ojek, berseliweran. Tapi betapa sulitnya mencari taksi malam itu. Setengah jam lebih kami menunggu, tak satu pun taksi yang bersedia. Taksi malam memang jual mahal. Meskipun dia taksi merek terkenal. Kamipun naik angkot sampai Ps Rebo, berharap di sana ada taksi kosong.Lagi-lagi, setengah jam menunggu, tak juga ada yang lewat. Kami akhirnya naik angkot sampai kelapa dua, tiba menjelang subuh. Ojek pun nyaris tidak tersedia. Tapi akhirnya kami tiba tak kurang satu apa. Bersyukur untuk perjalanan lewat tengah malam, dengan angkutan umum, yang pertama buat Kaka.
Kehilangan Abba
Abba, bapak saya, begitu akrab dengan Kaka. Abba menemani Kaka tumbuh. Abba ada di dekat Kaka bahkan sebelum ia dilahirkan. Abba juga setiap hari di rumah sakit waktu saya dirawat lima hari pascamelahirkan Kaka. Waktu Kaka pertama kali bisa bicara, Abba-lah yang dipanggilnya. Sehari-hari, kala saya harus bekerja, Kaka juga menghabiskan waktu dengan Abba meskipun ada neneknya, ibu daya, dan si ifa, pengasuhnya. Maka, ketika Abba pulang ke Lampung, Kaka merasa kehilangfan. Dia seringkali nanya, "Mana Abba?"
Abba telah berpulang, Rabu, 2 Oktober lalu, setelah sakit sepekan. Abba mengalami darah tinggi, lalu stroke, koma, dan meninggal dunia. Prosesnya begitu cepat. Saya sempat bertemu dengan Abba di hari terakhirnya, meskipun sudah dalam keadaan tidak sadar.
Kaka tidak. Terakhir kali kaka berjumpa, ya akhir September itu, ketika Abba akan pulang ke Lampung. Selasa, 17 Oktober 2013. Sepekan setelah di Lampung, Abba pun sakit. Saya sempat beritahu Kaka. Dan Kaka sering berkicau dengan sendirinya, "Abba sakit, di Lampung." Dengan bahasa dia tentunya.
Saat saya menjenguk Abba di rumah sakit, Kaka nggak ikut. Dia datang ketika Abba sudah meninggal dunia, langsung ke rumah. Saya sempat memperlihatkan jenazah Abba ke dia. Tapi dia tentu saja belum mengerti. Dia tetap bilang, Abba sakit, di Lampung."
Ah, Abba. Ah, Kaka. Abba memang lamban, tapi Abba sangat saya andalkan untuk bantu jaga Kaka ketika neneknya pergi. Sering juga Abba saya mintai tolong jaga Kaka sendiri, ketika si ifa juga pergi. Satu yang paling saya ingat tentang Abba dan Kaka adalah saat Abba manggil Kaka, "Kaka..." dengan suara setengah seraknya, ketika melihat Kaka main sendiri. Sering juga Abba membawa Kaka keluar rumah, jalan pagi melihat anjing.
Kaka sering juga manggil Abba dari kejauahn. Ketika Abba di rumah adik saya, yang ada di seberang rumah, misalnya. Atau ketika Abba lewat depan rumah untuk ek warung. Dan Kaka selalu lompat-lompat saat menyerukan namanya. Kaka senang bersama Abba.
Ah, Abba, Kaka pasti akan rindu Abba. Semoga Abba tenang di sana, dan kami bisa berjumpa lagi dalam keadaan yang lebih bahagia.
Jumat, 30 Agustus 2013
Masanya Susah Makan
Di sebuah rumah makan vegetarian, saya baca artikel tentang ajakan buat nggak nyisain msebutir nasi pun di piring. Artikel itu di tempel ditempel di dinding-dinding rumah makan, jadi siapa pun bakal ngeliat. menurut artikel itu, kalau setiap orang Indonesia menyisakan satu butir nasi setiap kali makan, dengan asumsi makan sehari tiga kali, maka beras yang terbuangh sia-sia sehari sampai 12 juta ton. Wehhh! Bayangkan kalau beras itu dibagi2 ke orang yang susah makan, berapa orang yang bakal ketolong setiap harinya?
Oke, gara-gara artikel itu, saya teringat kaka. anak saya yang sekarang dua tahun itu susah makan. Susah di sini bukan berarti butuh bantuan beras, tapi dia nggak mau makan nasi. Kadang-kadang, nasi yang disiapin buat dia kebuang percuma. Nah tuh kan, nasi itu bukan cuma sebutir lho... entar ada berapa ratus, atau mungkin ribu. miris.
Kaka mulai nggak suka makan mungkin sejak tiga bulan lalu. Nggak parah-parah amat sih, sehari dia pasti makan juga. Cuma paling dua suap, berenti. Jadi, dua atu tiga jam berikutnya terpaksa kasih makan lagi. Saya sih mikirnya dia nggak mau makan karena kenyang minum susu. Jadi, pernah suatu kali saya kurangin susunya. Alhasil, emak dan tante saya suka nyindir. Aih... emak-emak zaman dulu sih emang gak masalah kalau anaknya nggak mau makan, asal minum susu. Nah, kan seiring dengan ilmu pengetahuan yang berkembang, bagaimana dampak susu terhadap tubuh kalau diminum berlebihan, mestinya ibu-ibu zaman sekarang nggak lagi berpikir sama dengan ibu-ibu zaman dulu. Emang sih, soal dampak itu masih kontroversial. Tapi, apa pun yang berlebihan tentu nggak baik kan.
Nah, kembali ke kaka susah makan. Saya udah nyoba berbagai macam menu, nyontek dari buku menu, browsing, atau majalah. Tapi, lagi-lagi belum sreg buat kaka. dia cuma sreg sama ikan lele dan telur. Sayurnya? Sup wortel, kentang, makaroni, dan ayam atau sayur bayam bening. Tapi kalau dikasih itu-itu aja,tentu dia bosan. Terbukti kan, terakhir dikasih lele juga makannya nggak banyak.
Caranya juag macam-macam. Dari sambil main sampai diajak keliling kompleks. Cara ini emang nggak dianjurin sih, tapi... ya sudahlah. Nanti juga bakal diusakan balik lagi.
Konon, setiap anak bakal ngalami masa kayak kaka ini, susah makan. Tipenya beda-beda sih, ada yang nolak makanan karena mau main terus, nolak makanan karena maunya makan yang itu-itu aja, dan satu lagi saya lupa hehe. Dulu, kaka juga nggak susah makan. Apa pund ia makan. Cepet pula. Kalau liat dia makan, siapa pun bakal senang karena nggak ada masalah. Nggak ada laergi pula. Tapi masa itu cepat berlalu ya. Pengen rasanya ngembaliin kaka yang suka makan kayak dulu. Gimana caranya?
Rabu, 21 Agustus 2013
Sukses ke toilet sendiri
Kalau si istrinyja Chris Martin,Gwyneth Paltrow, ngakunya jago toilet training, gue nggak deh. Tapi bukan berarti gue gagal ngajarin kaka ke toilet ya. Sejak minggu lalu, Kaka udah bisa ngasih tau kalau mau pipis. "Pipiss.." katanya nyameprin gue, sambil megang selangkangannya.
Gue boleh bangga buat yang satu ini. Meskipun gue nggak pernah libur kerja dalam waktu lama, gue sukses ngajarin dia ke toilet. Seminggu aja cukup. Itu berlangsung sekitar lima bulan lalu lah. Caranya standar, sabtu-minggu, ketika gue libur, kaka nggak gue pakein diaper. Jadi setiap jam gue bawa ke toilet, entah akhirnya dia pipis atau nggak, pokoknya gue bawa.
Awalnya, pipisnya memang nggak keluar. Jadi, gue ulang sejam berikutnya. Begitu terus, sambil ngucapin mantra, "pipisss...pipiss...pipisss" hahaha. Ketika akhirnya dia pipis, gue tepuk tangan sambil bilang, "hore... pipisss..." Akhirnya dia tahu, bahwa pipis itu adalah keluar air dari tititnya. Nah sejak itu, kalau dia mau pipis, dia juga ngucapin mantra, "pipiss...pipis...pipis..."
Susahnya adalah, karena gue kerja, awalnya belajar ke toiletnya nggak konsisten. Jadi cuma tiap weekend aja dia nggak pake diaper. Kalau hari kerja, tetap dipakein sama si ipah. Mungkin dia males bawa-bawa kaka ke toilet terus, atau takut kena pipis kaka. Emak gue juga sih. Karena emak gue salat kan, jadi kalau kena pipis kaka repot.
Meski begitu. sukses juga kan. Kepandaian ke toilet sendiri sebenarnya sesuatu yang alamiah. Setiap manusia suatu saat pasti tau seperti apa rasanya pengen pipis atau pengen bab. Tapi, bukan berarti mereka langsung bisa. Butuh latihan kalau nggak mau dibuat repot nantinya. Ya kan? siapa yang mau anaknya pake popok terus? siapa juga yang rajin ngelapin pipisnya atau buangin eok-nya?
Bagaimana awalnya kaka bisa bilang sendiri itu, bukan gue yang pertama kali tau. Adalah tante gue yang kasih tau gue. Pekan lalu, si mbaknya kan belum pulang. Tante yang kebetulan masihlibur sekolah, bersedia ngurus kaka selama gue kerja. Nah, pas mau gue tinggal, kaka gue pakein diaper biarnggak ngerepotin si tante nantinya. Tapi si tante malah ngelarang. "Nggak usah dipakein, dia udah bisa ngomong kok kalau pengen pipis," katanya. Gue baru ngebuktiin kepandaian baru kaka itu keesokan harinya, sebelum gue kerja. Wuiihh.. kalau udah begini, tentu asyik nih. Tinggal latih lagi supaya lebih jago kayak kita. Ahay!
Selamat Ulang Tahun, Nak
Dua tahun sudah usianya. Ahay... Nggak perlu perayaan besarlah, cukup tiup lilin. Kenapa tiup lilin? ini memang bukan tradisi kita. Cuma, Si kaka itu seneng banget niup lilin. Bukan karena ulangtahun atau apa pun. Di handphone si papa, ada game ngidupin lilin, terus tiup. Maka lilinnya akan mati. Yang terpenting dari tiup lilin ini adalah fotonya. Rencananya, setiap tahun kaka akan tiup lilin yang jumlah atau bentuknya sesuai dengan usianya. Buat kenang-kenangan sih. Jadi ketika liat foto ulangtahunnya, kita bisa lihat bagaimana perubahan dia setiap tahun.
Dua tahun kaka, apa yang udah dia bisa? NGomong pastinya. Itu yang nyata banget dibandingin denganulang tahun pertamanya di rumah nenek Bengkulu dulu. Hampir semua kata yang ada di sekitarnya udah dia ketahuilah. Dia juga mulai suka ngikutin apa yangkita omongin. Maih ada beberapa omongan dia yang sampai sekarang gue belum ngerti maksudnya, misalnya jan kucum. Dia suka teriak tiba-tiba "Jann kucumm...." Atau "oe oe oe... bakkk!" itu teriakan dia kalau gedor-gedor kamar mandi ketika ada orang di dalamnya. Teriakan yang udah lama sih, tapi sampai sekarang masih dia lakukan.
Dia juga udah mulai senang pergi sendiri, seperti yang gue tulis di cerita sebelumnya. Yah, mesti hati-hati sih. Soalnya dia juga mulai bisa buka pintu pagar.
Oh ya, Si kaka tuh nggak suka makan. Kalau makan, mesti diajak jalan-jalan. Jadi ketika perhatiannya teralih, dia akan makan. Itu bukan cara yang benar sih. Jelas-jelas psikolog kasih tau bahwa kalau anak makan, jangan diselingin dengan kegiatan lain. Apalagi nonton. Tapi ya, apa daya. makanan masuk tentu lebih penting buatnya sekarang ini.
Selasa, 20 Agustus 2013
Dari Planetarium ke Keong Mas
Menutup liburan sekolah, Minggu (18/8), Kaka jalan-jalan seharian. Bukan kaka yang liburan sih, karena belum sekolah. Tapi dia ikut meramaikan aja. Pilihannya adalah Planetarium di Taman Ismail Marzuki dan Keong Mas di Taman Mini. Dua-duanya menyuguhkan tontonan yang disukai anak umur dua tahun seperti Kaka.
Anak kecil mana yang nggak suka bintang dan bulan? Bintang beneran ya, bukan bintang korea atau hollywood hehe. Itu sih, tante-tantenya yang suka. Setiap malam, kalau keluar rumah, Kaka nggak pernah lupa untuk nengok ke langit. seringkali gelap. Kalau ada cahaya setitik, wah alangkah senangnya dia. "bitang" katanya untuk nyebut bintang. "buwang" katanya untuk bulan. Nah, di Planetarium kemarin, dia puas ngeliat bintang dan bulan. Bahkan matahari.
Berangkat dari rumah sekitar jam 8.30, tiba di TIM jam 9.30. Yang ikut lumayan banyak, mobil penuhlah. KEbetulan ada keponakan om dari Bangka yang sengaja datang ke jakarta buat liburan. Sampe di sana, langsung antre tiket. Tiketnya Rp 7.000 untuk dewasa dan Rp3.500 untuk anak-anak. Nggak lama, kami pun masuk. Bukan hanya Kaka yang anak-anak. Di tempat ini, sebagian besar penontonnya adalah anak-anak. bahkan ada yang masih bayi. Dulu, gue juga pernah ke sini. Suasananya masih sama. Tempatnya mirip bioskop dengan beberapa pintu keluar. Bedanya, ini layarnya di atas, seperti ada di dalam bola. Lalu, di tengah-tengah ruangan ada semacam proyektor yang bentuknya juga bola. dari situlah gambarnya berasal. Nah, karena ada proyektor di tengah-tengah, kalau pilih tempat duduk di sini lebih baik agak ke pinggir supaya pandangan nggak terhalang proyektor itu.
Sekitar 15 menit kami duduk di dalam. MAsih terang. Lampu baru dimatiin ketika filmnya akan dimulai. Di sini, mulailah teriakan anak-anak terdengar. BAnyak yang takut gelap rupanya. Kaka nggak teriak sih, tapi dia ketakutan. Dia tinggalin tempat duduknya, terus duduk di pegangan kursi sambil meluk gue. Tapi pas bintang-bintang udahmuncul, dia agak tenang, walaupun tetap nggak mau duduk di kursinya. sepertinya, "film" yang diputar nggak terlalu mengecewakan Kaka. Dia cuma agak takut ketika layar memperlihatkan gambar-gambar rasi bintang. Tapi abis itu nggak. Film dimulai dari malam hari, lalu ke siang. Abis itu, penonton diajak terbang dengan pesawat luar angkasa untuk ngeliat planet-planet. Rasanya kursi goyang, berputar. Padahal nggak. Yang berputar kan gambar di layar setengah lingkaran itu. Kayaknya film yang ditayangin agak beda dengan beberapa tahun lalu ya. Dulu ada cerita pagi hari, ketika matahari timbul di barat, perlahan-lahan naik dan hari pun jadi siang. Sekarang nggak. Matahari itu ilang. Tiba-tiba udah siang aja.
Usai di Planetarium, hari masih pagi. Filmnya cuma sekitar 45 menit kayaknya. Perjalanan pun lanjut ke taman mini. Sesuai dengan permintaan ponakan om. Perjalanan lancar, meskipun hari panasnya tiada tara. Rupanya banyak orang yang berpikiran sama dengan kami, menutup liburan, mungkinjuga merayakan hari kemerdekaan, di tempat itu. Taman Mini penuh. Di dalam pun macet. Aih, ini bikin nggak asyik ya. Perut pun mulai keroncongan. Lalu muncul sesal, kenapa tadi nggak bawa makanan dan tiker? Gelar tiker di pinggir kolam yang isinya pulau-pulau nusantara itu kayaknya asyik ya. Tapi, ya sudahlah. Lupakan makan. Kita keliling aja melewati rumah-rumah adat. Nggak ada yang dimampirin. Kami berhenti begitu sampai di Keong Mas. Oh ya, keong mas ini adalah teater IMAX yang bangunannya berbentuk keong raksasa, warnanya kuning. Seperti juga Taman Mini, teater ini didirikan Ibu Tien Soeharto dan mulai beroperasi 20 April 1984. Konon, teater ini memang memutar film-film yang mendidik, terutama tentang kekayaan alam Indonesia. Sekali lagi, kita nonton di situ.
Harga tiketnya Rp30.000, sama aja dewasa atau anak-anak. VIP Rp50.000. Tapi kami pilih yang biasa aja. Kebetulan sekali, film yang akan diputar jam 13.00 itu adalah born to be wild (kalau nggak salah). Sebenarnya ada beberapa kali pemutaran sih, sebelum film itu kayaknya ada dua lagi. Filmnya beda-beda. Nah, yang kita tonton ini adalah film dokumenter tentang gajah dan orangutan. Ah, betapa kaya Indonesia akan dua hal itu. Wuih... kebayang betapa senang Kaka nanti. Setelah nunggu sekitar 30 menit, kami pun masuk keong mas.
Seperti dugaan, film yang diputar adalah tentang penyelamatan dua hewan yang mulai langka itu. Cuma, gajahnya dari Afrika, bukan dari Sumatra seperti yang gue kira. Tokoh utamanya para bule, dua-duanya ibu penuh baya (kakaknya ibu paruh baya) yang katanya pecinta binatang. Mereka merawat gajah-gajah dan orangutan-orangutan yang mulai kehilangan tempat tinggalnya. Dimandidin, disusuin, dipeluk-peluk.
Betapa senang kaka ngeliat film ini. Aih, dia seperti ELF yang lg nonton konser suju. Teriak-teriak. Matanya nyaris nggak ngedip. Apalagi layarnya segede bagong. Suaranya juga super. Jadi berasa ngeliat beneran dia.
Keong Mas itu seperti bioskop. Cuma tempat duduknya lebih banyak. Ruangannya tentu lebih gede, bukan layarnya aja. Kalau diliat dari sisi bioskopnya, mestinya Kaka belum layak diajak ya. Kalau menurut para ahli sih, anak boleh diajak ke bioskop setelah usianya empat tahun. Kaka kan baru menjelang dua tahun. Tapi ya sudahlah. Selain filmnya cuma 45 menit, cerita dan gambarnya juga bikin Kaka senang. Apa yang lebih membahagiakan gue selain bikin Kaka senang?
Langganan:
Postingan (Atom)