Ini bakal jadi cerita terpanjang dari semua cerita soal kakak karena ini cerita akhir kehidupan dia di dalam perut, menuju dunia bebas untuk ketemu langsung dengan saya, papanya, nenek, tante, om, kakak, teman, saudara, mudah-mudahan sih nggak usah ketemu musuh.
Kamis (18 Agustus 2011) emak dan aba datang dari Lampung ke rumah tante. Tapi karena udah terlalu malam, saya baru datang besoknya. Jumat malam sabtu saya nginap di tante. Papup masih di kontrakan.
Sebenarnya malam itu saya belum curiga apa-apa karena prediksi lahiran masih tanggal 22-28 Agustus. Cuma, kata orang, emang bisa lebih cepat.
Malam itu saya keluar cairan kental kayak lem. Tapi tanpa darah. Tapi kata dokter Tofan (pertanyaannya saya titip ke Rance yg kebetulan lg ke dokter) itu keputihan biasa.
Pas sahur, saya bangun dan makan seperti biasa. Duduk di kursi panjang. Tiba-tiba berasa ada cairan keluar. Saya langsung ke kamar mandi. Bener kan, ada cairan keluar yang bukan air kencing. Cairannya kental licin, ada darahnya dikit. Saya langsung berenti sahur dan nanya ke emak. Katanya, itu tanda-tanda, tapi masih lama. Mereka lanjut makan sahur sementara saya mulai gelisah takut itu air ketuban yang merembes. Walaupun belum kerasa mules, Papup langsung saya minta datang dengan tas pakaian yang udah disiapin buat ke rumah sakit.
Pagi-pagi, kebetulan itu hari sabtu, om nganter ke RSB Budhi Jaya Utama yang di Depok Timur. Di sana saya langsung diminta masuk ke ruang tindakan. Seorang bidan kemudian minta saya ngangkang di atas tempat tidur yang kayaknya khusus buat bersalin, tempat tidur tinggi, busa lapis kulit sintetis warna hitam, dan lubang di tengahnya.
Dengan sarung tangan karet, bidan itu kemudian masukin jarinya ke vagina, dia bilang baru pembukaan satu. Tapi memang cairan lendir dan darahnya lebai. Sementara ketuban masih utuh, belum pecah. Saya diminta nunggu 2-3 jam lagi untuk periksa lanjutan.
Tapi akhirnya kami memilih pulang. Katanya di rumah bisa lebih rileks. Emang sih rileks, tapi mules dan sakit perutnya muali datang teratur. Tiap mules itu datang, saya jalan dan jongkok atau nungging. Tapi selebihnya saya lebih banyak ngobrol. Malah sempat-sempatnya ngobrolin jalan ke pasar kaget Juanda yang muncul tiap Minggu pagi.
Semakin sore mulesnya tambah nyata. Tante juga mulai rajin nanya, mulesnya dateng tiap berapa menit. Abisa magrib, setelah semuanya makan, kami berangkat lagi ke Budhi Jaya. Masuk lagi ke kamar tindakan. Bidannya udah beda. Tapi dia bilang ini baru pembukaan dua. Huahhh... Baru dua aja udah lebai banget sakitnya.
Itu jam tujuh. Sambil terus meriksa, tangan saya dipasangin jarum buat masukin obat atau infus. Saking sakitnya mules yang datang teratur itu, tangan saya kiri dan kanan ditusuk-tusuk jarum pun udah nggak kerasa.
Jam 9 malam masuk pembukaan 6. Ketuban belum pecah. Bidan masih mondar-mandir. Emak sama papup nungguin di dalam. Tante, om, dan aba sesekali nengok. Jam 11 masuk pembukaan 9. Bidan langsung manggil dokter Maman Hilman, si dokter yang akhirnya nanti menolong persalinan kaka. Rumahnya di Pesona, jadi bisa cepat, kata bidan. Bidan semakin panik karena lubang infus belum juga didapat.
Dokter datang jam 12 kurang. Udah pembukaan 10, tapi katanya bayinya belum turun. Akhirnya dia pecahin ketuban. Katanya warnanya udah mulai hijau, artinya ada gangguan, mungkin lilitan.
Dokter nungguin lagi. Keluar masuk sambil nyuruh OB beli sate padang buat sahur. Jiahhh.... Baru jam segitu.
Pas dokter masuk lagi jam 12 lewat, periksa dalam, dia bilang bayinya belum turun juga. Dan kemungkinan nggak akan turun. Apagi saya ngedennya emang nggak kuat. Udah keburu lemas.
"Sesar aja," dia mutusin.
Waktu periksa terakhir sama dr Tofan, memang ada lilitan, tapi kata dia cuma melintang jadi tetap bisa normal. Cuma, waktu periksa sama dr Maman beberapa hari sebelumnya, dia bilang bayinya belum turun, kegedean. Saya disaranin sesar. Cuma, saya tetap mau normal, yah selain lebih murah, bisa ngerasain sakit ngelahirin, bisa lebih cepat nyambung hamil, juga ngajarin anak buat berjuang keluar ke dunia hehehee.
Di sinilah sejarah bermula. Dalam keadaan sakit itu, saya ikut kata dr Maman. Sesar pun dipilih. Udah putus asa sama sakitnya dan tenaga yang udah nggak ada. Akhirnya, dengan ambulance, saya pun diboyong ke Hasanah Graha Afiah.
Jumat, 14 Oktober 2011
Jumat, 19 Agustus 2011
kulit yang menghitam
Ini bukan cerita tentang kulit saya yang menghitam karena liburan di Bali atau di Lampung. Nggak semua bagian kulit menghitam, si pigmen rupanya pilih-pilih tempat juga. Mungkin ini karena hormon hamil tua.
bagian pertama leher. Nggak sampai hitam garis-garis seperti yang pernah saya lihat pada salah seorang teman yang sedang hamil tua juga. Tapi agak bedalah dgn sebelumnya.
Kedua, ketiak. Huhuhu...ini sungguh bikin sedih. Saya nggak bisa pake baju besar longgar yang ketiaknya kelihatan lagi. Nenek saya sempat bilang, "itu bulu ketek ya?" He?????
Ketiga, pangkal paha depan. Ini hitamnya aneh, bercak-bercak kayak motif macan tutul hehheee... Bercak-bercak yang sama jg ada di bagian bokong, tapi cuma sedikit.
Oh iya, sedikit perut bawah juga ada bercak, tapi saya nggak bisa lihat jelas.
Suami sih nggak keberatan. Ya iyalahh...mau diapain lagi? Dia cuma menghibur sedikit, "Namanya juga ibu hamil."
bagian pertama leher. Nggak sampai hitam garis-garis seperti yang pernah saya lihat pada salah seorang teman yang sedang hamil tua juga. Tapi agak bedalah dgn sebelumnya.
Kedua, ketiak. Huhuhu...ini sungguh bikin sedih. Saya nggak bisa pake baju besar longgar yang ketiaknya kelihatan lagi. Nenek saya sempat bilang, "itu bulu ketek ya?" He?????
Ketiga, pangkal paha depan. Ini hitamnya aneh, bercak-bercak kayak motif macan tutul hehheee... Bercak-bercak yang sama jg ada di bagian bokong, tapi cuma sedikit.
Oh iya, sedikit perut bawah juga ada bercak, tapi saya nggak bisa lihat jelas.
Suami sih nggak keberatan. Ya iyalahh...mau diapain lagi? Dia cuma menghibur sedikit, "Namanya juga ibu hamil."
Rabu, 17 Agustus 2011
jalan tol
Dua hari lalu saya ke dokter kandungan. Tapi kali ini bukan dr Tofan, bukan pula di RS Bunda Margonda. Saya coba-coba dr Maman Hilman di RSB Budhi Jaya, Depok Timur. Saya pilih dr ini atas saran seorang teman. Dr Maman praktik di Hermina dan HGA juga.
Awalnya saya datang ke RSB Budhi Jaya cuma untuk survey melahirkan normal. Pergilah saya dengan suami, yang hari itu bela-belain nggak masuk kerja, ke situ di pagi hari. Dari situ rencananya kami mau ke Depok Jaya, sekalian kontrol dengan dr Asmawinta, itu juga dr yang baru akan saya coba. Sama dengan dr Maman, dia juga praktik di Hermina dan HGA. Nah, pas liat ruang perawatan di Budhi Jaya yang sepertinya bangunan baru, suami langsung tertarik. Kamarnya gaya rumahan, ada kulkas, ac, tv, wastafel, kamar madi dalam. Itu untuk VIP A dan B serta kelas 1 a dan b.
Tapi saya bilang ke suami, lihatlah yg RSB Depok Jaya dulu. RSB itu lebih terkenal diceritain di blog orang. Dan nampaknya lebih tua juga usianya.
Akhirnya, setelah sempat mampir sebentar di RSB Sumber Bahagia yang juga di Depok Timur, saya dan suami ke Depok Jaya, Jl Rambutan, Depok I. Ada dua bangunandi situ, bangunan lama dan baru. Tapi kami masuk ke bangunan baru karen apraktik dokternya di situ. Setelah daftar, dapat nomor antre dua. Suami langsung jatuh cinta sama sitausinya yang adem, sepi, dan bersahabat. Sambil nunggu dokternya yang katanya baru berangkat dari HGA, kami iseng liat kamar. Susternya ramah, mau nganter ke setiap kamar di bangunan lama itu. Saya lupa ada berapa kamar, tapi ada VIP, kelas I, kelas II, dan kelas III.
Tapi, ruangan-ruangan itu sungguh membuat kami nggak tertarik lagi. Ruangannya kecil. Fasilitasnya tua, juga kamar-kamarnya. Seperti kos-kosan di pusat kota yang di sekat-sekat tripleks dengan cat putih.
Akhirnya kami putuskan, nggak jadi melahirkan di situ.
Kami pun kembali ke ruang tunggu konsultasi dokter, sambil cari akal bagaimana supaya bisa kabur. Akhirnya saya pilih jalan halus dengan bilang saya mau konsultasi ke dr Nel aja besok. Alasannya, atas rekomendasi teman.
Kaburlah kami dari situ. Pulang ke kontrakan. Kami putuskan, kami coba dr Maman di Budhi Jaya yang jadwal praktiknya malam itu juga.
Abis buka puasa, kami berangkat ke sana. Dapat urutan 19, sekitar pukul 9.30 baru bisa konsul.
setelah ditanya-tanya dikit soal kondisi dan tempat kontrol selama ini, dr Maman langsung periksa. Dia pegang bagian atas perut, "wah bayinya besar," kata dia.
Dia bilang, usia kandungan udah 38 minggu. Dan bayinya sampai 3,5 kg. Tanpa periksa dalam atau yang lain2, dia langsung bilang saya agar melahirkan sesar.
"Ini sih harus lewat jalan tol, udah sesar aja," kata dia.
Saya dan suami kaget dong... Selama ini dr Tofan nggak pernah nyinggung-nyinggung sesar. Dia cuma minta saya kurangin makan atau minum manis dan banyak jalan supaya bayinya segera masuk ke jalan lahir.
Ah, apa karena saya ganti dokter mendadak? sering juga dengar cerita seperti ini.
Pengen nangis rasanya divonis sesar.
Saya dikasih waktu satu minggu, dan dalam satu minggu ini saya mau usaha supaya normal. Dan mungkin kembali ke dr Tofan.
Oh iya, dr Maman ini rekan dr Tofan jg di HGA. Kata dia sih, dr Tofan itu ade kelas dia waktu kuliah.
Awalnya saya datang ke RSB Budhi Jaya cuma untuk survey melahirkan normal. Pergilah saya dengan suami, yang hari itu bela-belain nggak masuk kerja, ke situ di pagi hari. Dari situ rencananya kami mau ke Depok Jaya, sekalian kontrol dengan dr Asmawinta, itu juga dr yang baru akan saya coba. Sama dengan dr Maman, dia juga praktik di Hermina dan HGA. Nah, pas liat ruang perawatan di Budhi Jaya yang sepertinya bangunan baru, suami langsung tertarik. Kamarnya gaya rumahan, ada kulkas, ac, tv, wastafel, kamar madi dalam. Itu untuk VIP A dan B serta kelas 1 a dan b.
Tapi saya bilang ke suami, lihatlah yg RSB Depok Jaya dulu. RSB itu lebih terkenal diceritain di blog orang. Dan nampaknya lebih tua juga usianya.
Akhirnya, setelah sempat mampir sebentar di RSB Sumber Bahagia yang juga di Depok Timur, saya dan suami ke Depok Jaya, Jl Rambutan, Depok I. Ada dua bangunandi situ, bangunan lama dan baru. Tapi kami masuk ke bangunan baru karen apraktik dokternya di situ. Setelah daftar, dapat nomor antre dua. Suami langsung jatuh cinta sama sitausinya yang adem, sepi, dan bersahabat. Sambil nunggu dokternya yang katanya baru berangkat dari HGA, kami iseng liat kamar. Susternya ramah, mau nganter ke setiap kamar di bangunan lama itu. Saya lupa ada berapa kamar, tapi ada VIP, kelas I, kelas II, dan kelas III.
Tapi, ruangan-ruangan itu sungguh membuat kami nggak tertarik lagi. Ruangannya kecil. Fasilitasnya tua, juga kamar-kamarnya. Seperti kos-kosan di pusat kota yang di sekat-sekat tripleks dengan cat putih.
Akhirnya kami putuskan, nggak jadi melahirkan di situ.
Kami pun kembali ke ruang tunggu konsultasi dokter, sambil cari akal bagaimana supaya bisa kabur. Akhirnya saya pilih jalan halus dengan bilang saya mau konsultasi ke dr Nel aja besok. Alasannya, atas rekomendasi teman.
Kaburlah kami dari situ. Pulang ke kontrakan. Kami putuskan, kami coba dr Maman di Budhi Jaya yang jadwal praktiknya malam itu juga.
Abis buka puasa, kami berangkat ke sana. Dapat urutan 19, sekitar pukul 9.30 baru bisa konsul.
setelah ditanya-tanya dikit soal kondisi dan tempat kontrol selama ini, dr Maman langsung periksa. Dia pegang bagian atas perut, "wah bayinya besar," kata dia.
Dia bilang, usia kandungan udah 38 minggu. Dan bayinya sampai 3,5 kg. Tanpa periksa dalam atau yang lain2, dia langsung bilang saya agar melahirkan sesar.
"Ini sih harus lewat jalan tol, udah sesar aja," kata dia.
Saya dan suami kaget dong... Selama ini dr Tofan nggak pernah nyinggung-nyinggung sesar. Dia cuma minta saya kurangin makan atau minum manis dan banyak jalan supaya bayinya segera masuk ke jalan lahir.
Ah, apa karena saya ganti dokter mendadak? sering juga dengar cerita seperti ini.
Pengen nangis rasanya divonis sesar.
Saya dikasih waktu satu minggu, dan dalam satu minggu ini saya mau usaha supaya normal. Dan mungkin kembali ke dr Tofan.
Oh iya, dr Maman ini rekan dr Tofan jg di HGA. Kata dia sih, dr Tofan itu ade kelas dia waktu kuliah.
Senin, 15 Agustus 2011
tergila-gila keranjang rotan
Tiba-tiba saya teringat keranjang rotan tempat pakaian bayi yang ada di Inacraft april lalu. Harganya sekitar Rp400-600 ribu per keranjang. wujudnya kotak kerukuran sekitar 50-60 cm panjang, lebar 40-50 cm, dan tingginya mungkin cuma 25 cm. Warnanya pastel, biru muda, pink, kuning muda, ungu muda. Di dalamnya ada lapisan kain kota-kotak yang sampai ke mulut keranjang. Ada pita yang fungsinya selain untuk hiasan, juga untuk ngencangin kain nempel pada keranjang.
Saya naksir. Tapi entah bisa didapat di mana.
Dua malam saya hunting keranjang-keranjang itu di internet. Ada beberapa toko jual keranjang lewat pesanan telp. lucu-lucu bentuknya. Tapi belum nemu ukuran yang saya mau.
Lalu saya ingat cikini, stasiun kereta yang saya lewati kalau mau ke kantor. Di stasiun itu banyak keranjang rotan mentah, buat parcel, dsb. Ukurannya macam-macam. Cuma belum pernah tanya harga.
Saya juga ingat penjaja kerajinan rotan di sepanjang jalan menuju pasar minggu kalau dari arah kalibata. Dari keranjang sampai sofa, lemari, dan hula hop ada di sana.
Kenapa saya nggak beli keranjang mentah, lalu saya cat sendiri, dan dibuatkan lapisan dalamnya? Hmmm... Saya bisa bikin keranjang pakaian bayi, perlengkapan mandi bayi, atau keranjang pakaian kotor bayi dengan warna sama. kainnya? Saya bisa beli di tanah abang. Jahitnya? Numpanglah di rumah tante.
Ide itu udah saya pikirin dua hari dua malam. Sampai semalam baru bisa tidur jam 2 lewat, dan akhirnya nggak terbangun sahur, suami juga. Pagi ini, saya bertekad mau ke tenabang hunting kain dan peralatan jahit lain. Lalu pulang lewat cikini, beli keranjang rotan. Bagaimana?
Saya naksir. Tapi entah bisa didapat di mana.
Dua malam saya hunting keranjang-keranjang itu di internet. Ada beberapa toko jual keranjang lewat pesanan telp. lucu-lucu bentuknya. Tapi belum nemu ukuran yang saya mau.
Lalu saya ingat cikini, stasiun kereta yang saya lewati kalau mau ke kantor. Di stasiun itu banyak keranjang rotan mentah, buat parcel, dsb. Ukurannya macam-macam. Cuma belum pernah tanya harga.
Saya juga ingat penjaja kerajinan rotan di sepanjang jalan menuju pasar minggu kalau dari arah kalibata. Dari keranjang sampai sofa, lemari, dan hula hop ada di sana.
Kenapa saya nggak beli keranjang mentah, lalu saya cat sendiri, dan dibuatkan lapisan dalamnya? Hmmm... Saya bisa bikin keranjang pakaian bayi, perlengkapan mandi bayi, atau keranjang pakaian kotor bayi dengan warna sama. kainnya? Saya bisa beli di tanah abang. Jahitnya? Numpanglah di rumah tante.
Ide itu udah saya pikirin dua hari dua malam. Sampai semalam baru bisa tidur jam 2 lewat, dan akhirnya nggak terbangun sahur, suami juga. Pagi ini, saya bertekad mau ke tenabang hunting kain dan peralatan jahit lain. Lalu pulang lewat cikini, beli keranjang rotan. Bagaimana?
Kamis, 11 Agustus 2011
RB, Klinik, atau RSIA?
saya bingung. saya takut.
harusnya, di usia kandungan yang udah 38 minggu gini, saya tinggal nunggu waktu melahirkan. rumah sakit udah tersedia. perlengakapan juga, apalagi biaya. nah, sekarang saya baru mau cari klinik atau rumah bersalin buat melahirkan.
awalnya, saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di RS Bunda margonda. tapi melihat pengalaman teman yang melahirkan di sana biayanya jadi mahal, saya jadi jiper juga.
saya sih udah tanya biaya di sana, paling murah untuk normal, sekitar Rp7 juta. belum termasuk obat dan peralatan medis penunjang di luar standar.
saya sempat berpikir melahirkan di kampung ortu saya di lampung sana. biayanya masih Rp2 jutaan. Nah, masalahnya, suami gak setuju. selain khawatir sama kemampuan dokter sana, khawatir jarak tempuh rumah dengan rumah sakit, juga dia jenguknya susah selama 3 bulan saya cuti.
akhirnya saya cari alternatif, melahirkan di klinik atau rumah sakit bersalin aja. biayanya murah, hanya sekitar 3-4 juta untuk normal. udah pake dokter. tapi lagi-lagi suami takut.
"nanti kalo kenapa-napa gimana. ini anak pertama lho," kata dia beralasan.
dia sanggup nanggung dananya. kata dia. bagaimanapun caranya, dia bilang, saya harus percaya sama dia.
tapi kalau menurut saya, biaya yang dibutuhin akan lebih dari biaya persalinaan itu yg mungkin akan sampai Rp9 juta. masih banyak biaya pasca melahirkan yang bakal dikeluarin. perawatan nifas saya. imunisasi si kakak. perlengkapan kakak kaya stroller, tempat tidur bayi, dsb. hadoouuuhhh.....rupanya ini nggak segampang yang saya pikirin waktu membuatnya :P
ada banyak rumah bersalin di depok. saya telp satuper satu, ada kurnia asih di depok I, RB tugu ibu di depok II, Sumber bahagia di depok timur, budhi jaya utama di depok timur, naura medika, banyak dehhh...
dari informasi lewat telp, biayanya paling mahal Rp4 juta. toh sama-sama pake jasa dokter kandungan. selisihnya Rp5juta dari RS Bunda. uang segitu bisa buat nambah bayar kontrakan oktober depan, buat keperluan lebaran, dan banyak lagi. atau mungkin buat dp rumah. kalau nggak menghemat dengan cara begini, sampai kapan pun kami nggak akan punya rumah. saya memang nggak pernah sepikiran sama suami.
persoalannya, ada beberapa RB yang maunya saya periksa di situ dulu meskipun cuma sekali. biar mereka punya data, katanya. tapi, suami tetap nolak.
harusnya, di usia kandungan yang udah 38 minggu gini, saya tinggal nunggu waktu melahirkan. rumah sakit udah tersedia. perlengakapan juga, apalagi biaya. nah, sekarang saya baru mau cari klinik atau rumah bersalin buat melahirkan.
awalnya, saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di RS Bunda margonda. tapi melihat pengalaman teman yang melahirkan di sana biayanya jadi mahal, saya jadi jiper juga.
saya sih udah tanya biaya di sana, paling murah untuk normal, sekitar Rp7 juta. belum termasuk obat dan peralatan medis penunjang di luar standar.
saya sempat berpikir melahirkan di kampung ortu saya di lampung sana. biayanya masih Rp2 jutaan. Nah, masalahnya, suami gak setuju. selain khawatir sama kemampuan dokter sana, khawatir jarak tempuh rumah dengan rumah sakit, juga dia jenguknya susah selama 3 bulan saya cuti.
akhirnya saya cari alternatif, melahirkan di klinik atau rumah sakit bersalin aja. biayanya murah, hanya sekitar 3-4 juta untuk normal. udah pake dokter. tapi lagi-lagi suami takut.
"nanti kalo kenapa-napa gimana. ini anak pertama lho," kata dia beralasan.
dia sanggup nanggung dananya. kata dia. bagaimanapun caranya, dia bilang, saya harus percaya sama dia.
tapi kalau menurut saya, biaya yang dibutuhin akan lebih dari biaya persalinaan itu yg mungkin akan sampai Rp9 juta. masih banyak biaya pasca melahirkan yang bakal dikeluarin. perawatan nifas saya. imunisasi si kakak. perlengkapan kakak kaya stroller, tempat tidur bayi, dsb. hadoouuuhhh.....rupanya ini nggak segampang yang saya pikirin waktu membuatnya :P
ada banyak rumah bersalin di depok. saya telp satuper satu, ada kurnia asih di depok I, RB tugu ibu di depok II, Sumber bahagia di depok timur, budhi jaya utama di depok timur, naura medika, banyak dehhh...
dari informasi lewat telp, biayanya paling mahal Rp4 juta. toh sama-sama pake jasa dokter kandungan. selisihnya Rp5juta dari RS Bunda. uang segitu bisa buat nambah bayar kontrakan oktober depan, buat keperluan lebaran, dan banyak lagi. atau mungkin buat dp rumah. kalau nggak menghemat dengan cara begini, sampai kapan pun kami nggak akan punya rumah. saya memang nggak pernah sepikiran sama suami.
persoalannya, ada beberapa RB yang maunya saya periksa di situ dulu meskipun cuma sekali. biar mereka punya data, katanya. tapi, suami tetap nolak.
Rabu, 20 Juli 2011
siapa nama?
siapa pula nama kakak nanti? kalau mau enak sih, sebelum melahirkan udah ada satu nama, apalagi udah jelas cuma harus nyiapin nama cowok. soalnya, ntar rumah sakit biasanya langsung ngurusin akta kelahiran, jd kita nggak usah repot lagi.
saya sih nggak punya pilihan nama. tapi si pupung mungkin punya. dia pertama minta nama kakak rafael, langsung saya tolak mentah-mentah karena mirip nama personel smash, boyband indonesia yang rasa korea itu. juga, ibu saya pasti nggak suka.
akhirnya, si pupung nyari-nyari lagi. keilhatannya dia lagi jatuh cinta sama nama-nama jawa kuno atau sansekerta. kemana-mana dia suka bawa kamus jawa kuno dan satu buku kecil buat nyatet nama-nama bagus yang dia temuin di kamus itu.
saya sih belum liat hasil saringan dia. tunggu aja lah. yang pasti saya mau nama kakak netral-netral aja biar nggak nyusahin kalo ke luar negeri. siapa tau, ntar kakak jadi kakak the explorer yang kerjanya keliling dunia.
saya sih nggak punya pilihan nama. tapi si pupung mungkin punya. dia pertama minta nama kakak rafael, langsung saya tolak mentah-mentah karena mirip nama personel smash, boyband indonesia yang rasa korea itu. juga, ibu saya pasti nggak suka.
akhirnya, si pupung nyari-nyari lagi. keilhatannya dia lagi jatuh cinta sama nama-nama jawa kuno atau sansekerta. kemana-mana dia suka bawa kamus jawa kuno dan satu buku kecil buat nyatet nama-nama bagus yang dia temuin di kamus itu.
saya sih belum liat hasil saringan dia. tunggu aja lah. yang pasti saya mau nama kakak netral-netral aja biar nggak nyusahin kalo ke luar negeri. siapa tau, ntar kakak jadi kakak the explorer yang kerjanya keliling dunia.
Jumat, 24 Juni 2011
kepala di bawah
kaki di kepala, kepala di kaki. itu kata peterpan. eh tapi bukan itu yang mau gue ceritain. ini soal kakak lagi, kepalanya udah di bawah, kata dokter tofan, waktu periksa kakak pekan lalu. tak ada pula lilitan di leher. artinya, kakak kemungkinan besar bisa lahir normal. uhhhuuyyyy..... sakit sesakit-sakitnya lahiran normal, tetap lebih asyik kayaknya. buktinya, emak gue bisa ngelahirin enam kali dengan cara normal. banyak juga cerita di kampung antah berantah yang sampe ngelahirin belasan kali dengan cara normal.
"sekarang jangan terlalu banyak nungging, kepalanya udah di bawah. nanti kalo kebanyakan nungging malah kepala naek lagi," kata si dokter.
gue ceritalah, bahwa gue disaranin banyak nugging kalo bangun tidur, banyak ngepel pake kain sehingga terpaksa nungging, dan banyakin salat karena pas sujud juga itungannya nungging.
"udahlah, salat juga biasa aja," kata dokter.
cuma, si kakak malah jadi kecil. dengan usia 7 bulan 1 pekan, mestinya berat janin udah sampe 1,6 kg. nah, si kakak ini baru 1,5 kg. cuma beda 1 ons sih.
dua bulan lalu, si kakak divonis kegendutan. gue disuruh diet karbo, es krim, dan cokelat. beratttt...tapi gue lakuin juga. gue makan pagi cuma roti atau biskui dengan segelas susu. siang baru makan nasi. sore makan lagi dikit, tapi malam nggak makan lagi, paling minum susu atau makan buah.
nah, pola makan seperti itu bertahan dua bulan. dan ternyata sukses bikin berat badan kakak normal, meskipun berat badan gue tetap nambah. sekarang berat gue udah 54 kg, artinya nambah 14 kg dari berat sebelum gue hamil. itu masih normal kalo ngitung kenaikan berat badan rata-rata ibu hamil maksimal 2 kg per bulan.
nah, karena berat kakak kurang, dokter minta gue nambah makan, plus cokelat dan es krim. nah, kalo yang eblakangan ini, pupunglah yang senang. dia penggemar cokelat, melebihi gue. dia juga suka es krim. maka, kalo gue beli cokelata tau es krim, dipastikan dia nggak bakal mau ketinggalan.
dua hari lalu, gue ngambek. alasannya sebenarnya kesalahan dia yang udah berulang-ulang, cuma entah kenapa gue nggak enak ngomongnya. takut dia tersinggung terus marah.
nah, dua hari gue diemin dia, sampe dia nggak ngantor juga gue diemin.
setelah dua hari itu, dia pulang malam, dan gue nggak nanya sama sekali. baru sampe rumah jam 11 kurang. dia langsung nyium perut gue dan pipi gue. terus langsung buka tas dan ngeluarin plastik alfa mart. di dalamnya ada 3 batang cokelat.
"ini buat mami (dia manggil gue mami, katanya mama mila), ini buat kakak...." dia pun mengangsurkan cokelat itu ke gue.
gue ngakak. belum pernah dia beliin gue cokelat begini, ada juga dia yang selalu minta beliin cokelat.
gara-gara itu, gue akhirnya baikan.
tapiii....dua cokelat itu akhirnya nggak sepenuhnya gue yang makan. satu batang malah 3/4-nya dia yang abisin. "nanti dibeliin lagi dehhh...." kata dia minta maaf.
nah, kalo perkara naikin berat badan itu emang paling enak. cuma, kayaknya harus dijaga juga. badan gue kecil. kalo janinnya kegedean, bisa susah keluar normal. ujung-ujungnya terpaksa sesar.
"sekarang jangan terlalu banyak nungging, kepalanya udah di bawah. nanti kalo kebanyakan nungging malah kepala naek lagi," kata si dokter.
gue ceritalah, bahwa gue disaranin banyak nugging kalo bangun tidur, banyak ngepel pake kain sehingga terpaksa nungging, dan banyakin salat karena pas sujud juga itungannya nungging.
"udahlah, salat juga biasa aja," kata dokter.
cuma, si kakak malah jadi kecil. dengan usia 7 bulan 1 pekan, mestinya berat janin udah sampe 1,6 kg. nah, si kakak ini baru 1,5 kg. cuma beda 1 ons sih.
dua bulan lalu, si kakak divonis kegendutan. gue disuruh diet karbo, es krim, dan cokelat. beratttt...tapi gue lakuin juga. gue makan pagi cuma roti atau biskui dengan segelas susu. siang baru makan nasi. sore makan lagi dikit, tapi malam nggak makan lagi, paling minum susu atau makan buah.
nah, pola makan seperti itu bertahan dua bulan. dan ternyata sukses bikin berat badan kakak normal, meskipun berat badan gue tetap nambah. sekarang berat gue udah 54 kg, artinya nambah 14 kg dari berat sebelum gue hamil. itu masih normal kalo ngitung kenaikan berat badan rata-rata ibu hamil maksimal 2 kg per bulan.
nah, karena berat kakak kurang, dokter minta gue nambah makan, plus cokelat dan es krim. nah, kalo yang eblakangan ini, pupunglah yang senang. dia penggemar cokelat, melebihi gue. dia juga suka es krim. maka, kalo gue beli cokelata tau es krim, dipastikan dia nggak bakal mau ketinggalan.
dua hari lalu, gue ngambek. alasannya sebenarnya kesalahan dia yang udah berulang-ulang, cuma entah kenapa gue nggak enak ngomongnya. takut dia tersinggung terus marah.
nah, dua hari gue diemin dia, sampe dia nggak ngantor juga gue diemin.
setelah dua hari itu, dia pulang malam, dan gue nggak nanya sama sekali. baru sampe rumah jam 11 kurang. dia langsung nyium perut gue dan pipi gue. terus langsung buka tas dan ngeluarin plastik alfa mart. di dalamnya ada 3 batang cokelat.
"ini buat mami (dia manggil gue mami, katanya mama mila), ini buat kakak...." dia pun mengangsurkan cokelat itu ke gue.
gue ngakak. belum pernah dia beliin gue cokelat begini, ada juga dia yang selalu minta beliin cokelat.
gara-gara itu, gue akhirnya baikan.
tapiii....dua cokelat itu akhirnya nggak sepenuhnya gue yang makan. satu batang malah 3/4-nya dia yang abisin. "nanti dibeliin lagi dehhh...." kata dia minta maaf.
nah, kalo perkara naikin berat badan itu emang paling enak. cuma, kayaknya harus dijaga juga. badan gue kecil. kalo janinnya kegedean, bisa susah keluar normal. ujung-ujungnya terpaksa sesar.
Langganan:
Postingan (Atom)