Kamis, 03 September 2015

Baju Hamil? Nggak Deh

Ada beberapa momen yang bisa dijadikan buat belanja baju baru, lebaran, ulang tahun, pernikahan saudara, dan... kehamilan. Iya dong... hamil berarti perut menggendut, paha melebar, kadang-kadang dada juga membesar. Nah, baju-baju lama nggak mungkin bisa nutupin segala sesuatu yang memebsar itu kan... Biasanya, orang hamil ya belanja baju hamil. Itu lho... baju-baju yang bagian perutnya lebar, dress gaya babydoll, atau kalau celana, celana yang pinggang karet atau tak berpinggang karena bagian pinggang ditambahin bahan supaya bisa nampung perut dan karetnya dipindahin ke atas. Tapi ingat.. itu cum bisa dipake selama hamil, gak sampe sembilan bulan. Tapi buat gue, baju hamil itu nggak banget. Bikin gue kelihatan tambah tua, tambah gendut, tambah... yang nggak bagus-bagus deh. Apalagi gue yang pendek gini. Hamil Kaka dulu pun gue nggak beli baju hamil. Yanggue pake adalah baju-baju yang elastis, jadi bisa mengakomodasi perut gue yang membuncit, atau baju-baju yang memang longgar. Kalau celana? Ya terang aja, yang ini sih nggak bisa diakalin lagi. Bisa aja sih gue nggak usah pake celana, dress aja. kan banyak tuh dress (bukan dress hamil) yang memang bagian perutnya longgar. Tapi buat gue dress itu nggak praktis karena gue harus turun naik kereta, ojek, atau bus, pakai dress. Nah, kali ini juga begitu. Oke gue butuh baju baru, jugacelana baru buat kehamilan kali ini. tapi bukan baju hamil ya....

Adik yang Dinanti

"Kapan si Kaka punya adik?" Pertanyaan itu sering banget ditujukan ke saya kalau lagi kumpul keluarga atau teman-teman lama, menggantikan pertanyaan usang,"Kapan kawin?" atau "Kapan punya anak?" yang udah terjawab sebelumnya. Tak lama lagi, pertanyaan "Kapan si Kaka punya adik?" ini pun akan terjawab. Menjelang akhir pekan lalu, begitu bangun tidur, gue langsung pipis dan mewadahinya di gelas sekali pakai. Test pack udah di tangan. Sesuai petujuk, gue celupkanlah test pack itu ke pipis gue. Tak lama menunggu. Dua garis pink pun muncul, satu jelas, satu samar-samar. Tapi gue yakin sekali bahwa itu menunjukkan bahwa gue positif hamil. Dan benar kan, beberapa hari kemudian haid gue nggak kunjung datang. Jadi kalau dihitung-hidung berdasarkan kalender ala dokter ob gyn, kehamilan gue sekarang berusia sekitar 5-6 pekan. Test pack itu sebenarnya udah gue siapin bulan lalu karena berharap hamilnya saat itu. Tapi ternyata, kami waktu itu gagal mempertemukan sperma dan indung telur hahaha. Barulah bulan ini sukses. Tes ini gue lakukan di tanggal yang sama dengan hari pertama haid bulan lalu. Artinya, saat itu gue baru terlambat sehari atau dua hari. Siklus haid gue memang selalu maju sehari atau dua hari. Tapi gue yakin banget hamil. Apa tandanya? Mulut gue pahit seminggu belakangan ini. Trus perut bagian bawah suka pegal. gejala ini sebenarnya beda banget sama yang gue rasain waktu awal-awal hamil Kaka. Dulu gue tau hamil ketika ada bercak cokelat di underwaer gue. Beberapa hari sih, sempet mikir bahwa itu pertanda menjelang haid yang ternya atak kunjung datang sampai beberapa pekan kemudian. Baru kemudian gue beli testpack, disambung dengan ke dokter kandungan. Dulu waktu hamil Kaka, gue terbilang perkasa. Waktu itu gue punya hobi baru, yaitu lari-lari. Kadang-kadang lari ngejar narsum yang sering ogah diwawancara wartawan karena takut ditanya-tanya sesuatu yang masih rahasia, kadang-kadang juga ngejar kereta yang meskipun gue berhasil ngejar nggak bakal gue kawinin. Gue juga pernah liputan ke hutan kalimantan melalui perjalanan 12 jam, 3 kali ganti mobil, karena harus lewat jalanan terjelek yang pernah gue temui seumur hidup gue. Kali ini, gue juga berharap keperkasaan gue itu nggak hilang. Gue masih pengen ke mana-mana, gue nggak pengen diperlakukan beda karena gue cuma hamil, bukan sakit. Dan semoga kehamilan gue kali ini juga nggak mendatangkan sakit supaya gue tetap happy dengan adik yang dinanti ini.

Kamis, 13 Agustus 2015

Kaka Sekolah

Ah akhirnya hari yang ditunggu-tunggu laki-laki kecil itu datang juga. Kamis, 30 Juli 2015, Kaka mulai sekolah. Hari itu udah ditunggu sejak lama. Ketika awal tahun, saat kami keliling ke beberapa sekolah, dia udah ngerasa bahwa itu adalah sekolah. Apalagi ketika akhrinya memutuskan memilih TKIT Fitri, dan beberapa kali sebelum tahun ajaran baru dimulai Kaka harus ke sekolah itu untuk berbagai keperluan. Itu juga dia anggap mulai sekolah. Sekolah yang saya pilih buat Kaka itu berkonsep islami. Mereka diperkenalkan Islam sejak dini, sesuatu yang mungkin nggak bisa banyak didapat Kaka dari saya. Mereka masuk jam 7.15. Sebelum masuk kelas, anak-anak, dari PG sampapi TK B, diajak duduk bersama di halaman kelas. Lalu diajak menghapal surat-surat pendek dengan seorang guru khusus baca Quran. Ini juga sama sekali belum dikuasai Kaka. Bukannya saya nggak mau ngajarin, tapi saya kesulitan untuk itu. Bayangin, setiap saya mulai baca basamalah, Kaka langsung bilang, "Mama nggak usah ngaji, nyanyi aja." Nah lho. akhirnya nyanyilah saya, balonku ada lima. Pukul 8 mereka pun masuk kelas. Di sinilah mereka baru mulai belajar kayak TK biasa. Tapi sebenarny bukan belajar juga sih, lebih pada memperkenalkan cara hidup islami, misalnya bagaimana sikap makan yang benar. Oh ya, setiap hari temanya beda. Saya lupa sih apa aja, karena saya belum dapat program sekolah. tapi kepala sekolahnya sempat ngejelasin. Hari Senin misalnya ada pelajaran kebangsaan, ini semacam mengenal negara lebih baik. Misalnya bendera, lagu kebangsaan, dll. Trus Kamis ada pelajaran salat. Soal salat sebenarnya Kaka sempat rajin, ke masjid atau ikut saya salat di rumah. Tapi belakangn ini dia mulai malas. Lalu, ada jam makan snack. Di sini mereka diajari adab makan, dari cuci tangan, antri ambil makanan, makan dengan tangan kanan, makan dengan sikap duduk, dll. Nah, soal makan ini saya agak telat ngajarin Kaka makan sendiri. Di usianya yang hampir 4 tahun, Kaka masih disuapin. Tapi di sekolah dia harus makan sendiri. Dan harus habis katanya. Tapi selama ini belum pernah liat makanan Kaka habis sih. Beberapa kali dia bawa pulang. Oh ya, bukan anaknya doang yang belajar. Orangtua juga harus belajar. Setiap Kamis, ada semacam obrolan santai yang temanya cara mudah jadi orangtua. Konon ada belajar baca Quran juga. Tapi saya belum pernah ikut. Soal jam belajar? Emang sih agak pagi, jam 7.15-11. Tapi fleksibel kok. Banyak ibu yang baru antar anak pas udah jam 9. Alasannya anaknya susah bangun. Dan agak lama. Durasinya bahkan lebih lama daripada anak SD negeri kelas 1-2. Dulu, keponakan saya kalau masuk jam 7, pulang jam 9. Kalau masuk jam 9, pulang jam 11. Soal jam belajar ini ternyata memunculkan masalah lain, siapa yang antar-jemput Kaka? Kalau pagi jelas saya bisa antar. Tapi persoalannya saya belum bisa naik motor (lagi belajar sih, mati-matian harus bisa). Jadi, setiap pagi saya minta anter adik saya. Saya juga belum punya motor. Jadi, saya ini adalah pengantar yang diantar haha. Pulangnya? Beberapa kali saya yang jeput, tapi saya terpaksa dateng ke kantor sudah snagat siang. Jadi semacam shift siang. Nggak mungkin terus-terusan. Sekarang sih lagi ada ibu saya, yang semangat banget jemput Kaka. Apalagi setelah tahu bahwa setiap kamis ada obrolan santai itu, ibu saya menyebutnya pengajian, hihi.

Sekolah Itu Main

Suatu siang, ketika menjemput Kaka pulang sekolah, Bu Ika, guru di TK Fitri, menghampiri saya. "Alhamdulillah Kaka hari ini mau masuk kelas," katanya begitu bersemangat. Ia lalu diam sejenak, mungkin menunggu reaksi saya. Saya tersenyum. "Alhamdulillah," kata saya menanggapi. "Tapi baru masuk kelasnya pas bel pulang berbunyi," kata Bu Ika lagi. Saya tersenyum lagi. Entah senyum apa yang harus saya keluarkan hari itu.
Kaka memang satu di antara tiga murid unik di sekolah itu. Dan, tiga murid unik itu ada di satu kelas, ya kelasnya Bu Ika itu. Uniknya seperti apa? Pertama, nggak mau masuk kelas. Jadi ketika teman-temannya di kelas, Kaka main di luar. Dan itu selalu sama dua temannya yang lain. Bu Ika menyebut mereka Three Musketeers. Kalau nggak ada di arena bermain, Kaka ada di kelas PG. Itu kelas untuk anak yang usianya di bawah Kaka. Nah, dari hari pertama, ketika disuruh masuk kelas, Kaka masuknya ke kelas PG. Selidik punya selidik, ternyata di kelas itu ada teman mainnya di rumah. Ditambah lagi, di kelas PG itu lebih banyak mainan dan kelasnya luas banget. Ternyata itu soal kaka yang nggak bisa diam itu bukan cuma di sekolah. Di tempat ngajinya, Kaka juga begitu. Guru ngaji, yang sering ketemu di sekolah Kaka karena kebetulan anaknya juga sekolah di situ, beberapa kali buat laporan. Ibu saya, yang suka nemenin Kaka ngaji, juga laporan begitu. Saya, yang nganter Kaka pertama kali ngaji, juga ngeliat dengan mata kepala sendiri. Kaka memang luar biasa aktifnya. Soal dia nggak bisa diam di kelas atau duduk manis saat ngaji di masjid, saya udah prediksi. Sehari-harinya juga begitu. Bahkan ketika berdiri, tangan dan kakinya nggak pernah diam. Tapi saya sih nggak pernah maksa dia buat harus selalu di kelas atau duduk di depan guru ketika mengaji. Biar aja dia ke kelas ketika dia udah pengen ke kelas. Dan main ketika dia mau main. Karena sejak awal saya bilang ke dia, kalau masih TK, sekolah itu main.

Senin, 27 Juli 2015

Lewat Tengah Malam di Kereta Tanah Abang-Merak

Mudik ke Lampung tahun ini agak berbeda buat saya, juga keluarga kecil saya. Kalau buat saya, sebelum nikah saya rutin mudik setiap menjelang Lebaran. Biasnaya naik bus. Dan terakhir-akhir setelah lulus kuliah aja sering nebeng om. Ketika menikah, dan punya anak, saya selalu nebeng om. Naik bus buat saya terlalu repot, mesti bawa anak kecil, gendong tas besar berisi keperluan anak kecil yang segambreng, belum lagi kalau mesti pindah dari satu moda ke moda transportasi lainnya. Tapi, seperti yang saya bilang di awal, tahun ini beda. Saya dan keluarga kecil ini mudik naik kereta, Krakatau namanya. Sebenarnya ini kereta ekonomi jarak jauh, Kediri-Merak, melalui Senen, Tanah Abang, Rangkas bitung, dan Merak. Jadwal berangkat dari merak, setiap hari jam 22.30. Ongkosnya Rp 30 ribu. Perjalanan Tanah Abang-Merak ditempuh 3 jam lebih. Tapi ketika saya naik, kereta ini agak telat. Dia baru berangkat jam 22.50. Mungkin karena padatnya perjalanan kereta Jawa karena banyak jadwal tambahan buat menampung pemudik. Dan, sampai merak jam 2.30. Ini pengalaman pertama saya mudik naik kereta, setelah puluhan tahun tinggal di Jakarta. Buat suami dan anak saya apalagi. Rasanya? Lebih asyik. Apalagi perjalanannya malam, jadi ngerasa nggak buang-buang waktu di jalan. Terus, meski kereta ekonomi, keretanya bersih. AC-nya kerasa sejuk, mungkin karena malam juga ya. nggak tau deh kalau siang (eh tapi kalau untuk Tanah Abang-Merak adanya malam doang). Dan yang jelas areanya jauh lebih lapang dibandingin dengan bus. Jadi saya bisa leluasa selonjoran. Bangkunya, yang di-setting berhadapan dengan sebuah meja kecil di tengah-tengah, pun lebih lega. Oh ya, satu yang jelas bikin kereta lebih unggul dibanding bus adalah colokan. Ya, di bawah meja kecil di antara bangku penumpang, ada dua colokan. Buat anak-anak zaman sekarang yang nggak bisa jauh-jauh dari colokan, bahkan rela beli kopi seharag 50 ribu cuma buat colokan doang, terang aja ini jadi nilai tambang banget. Kenapa milih naik kereta? Sebenarnya ini nggak sengaja. Saya baru berencana mudik Kamis (1/7) atau sehari menjelang LEbaran. Karena, saya baru libur di tanggal itu. Di hari terakhir saya kerja, pulangnya agak siang. Seperti biasa, saya naik kereta. Biasanya naik dari Palmerah, transit Tn Abang, baru lanjut kerte Depok. Tapi hari itu saya langsung ke Tn Abang, kebetulan jalanan lancar. Ketika sampai di Tn Abang, saya iseng ngeliat loket tiket. Dan, di jadwal paling atas salah satu loket, ada keterangan kereta Krakatau yang berangkat setiap hari pukul 22.30. Nah, langsung saya telp pak suami, bujukin dia mudik malam itu juga. Oke, pak suami setuju. Saya juga telp adik-adik saya yang kebetulan memang berencana puylang malam itu. Oke, satu adik setuju naik kereta. Satu lagi nggak bisa dihubungi. Saya anggap dia oke aja. Maka, saya pun cari informasi, soal harga tiket, waktu pembelian, dll. Ternyata, tiketnya tinggal 9 dan sya disaranin beli saat itu juga. Lalu saya langsung ke loket. Melihat calon penumpang lain beli tiket pakai KTP, saya bingung dong. Haduh, saya cuma pegang KTP saya sendiri. Apa kabar suami dan adik-adik saya? Apalagi si mbak yang nggak punya KTP. aih.. Percobaan pertama, saya nggak pake KTP suami, cuma KTP saya. Ditolak. Percobaan kedua, KTP suami pake fotonya aja yang dikirim barusan. Ditolak. Tapi saya bersikeras. Kan yang dibutuhin nomor KTP doang, masak ngak bisa pakai foto? Setelah berdebat, saya disaranin ke informasi. Nanya, boleh nggak foto KTP aja? Dan ternyata boleh. Balik lagi dong ke loket. Sambil antre, saya ngisi formulir pembelian untuk tiga orang, saya, suami, dan si Kaka. Oh ya, Si Kaka ini usianya udah hampir 4 tahun. dan aturannya anak usia 3 tahun ke atas harus udah beli tiket seharga orang dewasaa. Ketika akhirnya sampai giliran saya, si mbaknya ternyata udah ganti. Et dah... dan si mbak yang ini nggak rese. Setelah saya kasih formulir pembelin, dia nggak nanya KTP lagi. Bahkan KTP saya juga nggak dilihat. Ah ternyata pelayanan KAI ini masih tergantung sama petugasnya, nggak ada standar baku. Tau begini, saya beliin sekalin adik-adik saya ituh. Setelah tiket di tangan, saya pulang. Siap-siap dong karena memang belum ada persiapan. Berangkat ke stasiun Tanah Abang lagi sekitar jam 8 dari rumah. Naik commuterline dong. Dan seperti dugaan saya, kami kecepatan. Sampe sana baru jam 9.30. Ada waktu satu jam buat nongkrong-nongkrong nggak jelas bertigaan. Naik kereta buat saya selalu menyenangkan. Apalagi buat Kaka. Dia punya buku tentang kereta api, dia selalu minta dibacain itu menjelang tidur. Dan begitu tahu kami mudik naik kereta, dia antusias banget. Buku itu pun wajib ditenteng haha. Sepanjang jalan pun dia nyaris nggak tidur. Bukan cuma minta dibacain buku, tapi juga nanya ini-itu tentang daerah yang dilewatin. untung aja di luar gelap. Karena nggak bisa lihat apa-apa, jadilah dia tidur. Oh ya, ternyata seat yang katanya cuma tinggal 9 itu cuma bohong belaka. Nyatanya kereta ini banyak yang kosong. Kalau mau duduk terpisah, kami bisa tidur selonjoran di bangku-bangku yang kosong itu. Tapi ya sudahlah. Sebaiknya memang nggak tidur. Nikmati aja perjalana pertama Tanah Abang-Merak dengan Karkatau ini.

Senin, 13 Juli 2015

Gara-gara Kelenjar Infeksi

Dua minggu lalu, leher belakang si Kaka, tepatnya di bawah telinga, bengkak. Ini bikin saya panik. Jelas dong. Apalagi setelah dapat banyak informasi tentang bawah ;eher bengkak dari Internet. Oh ya, ada kebiasaan baru buat ibu muda kayak gue. Kalau anak kenapa-napa, tinggal browsing Internet aja, semua kelainan dan penyakit rasanya ada. Tapi ingat ya, ini cuma infromasi awal, akhirnya tetap juga harus ke dokter dan ke lab kalau memang dibutuhkan. Eh tapi pernah saya ke dokter, setelah browsing sana-sini, dan sedikit banyak tanya atau protes, saya dikatain dokter Internet sama si dokter. Balik lagi ke soal bengkaknya leher Kaka dalam tulisan yang ini . Sekarang saya nggak panik lagi karena si Kaka udah dinyatakan nggak sakit lagi. Memang nggak pake tes lab sih, tapi kayaknya itu nggak perlu. dokter nggak nyaranin. Ketika Kamis atau Jumat (lupa hari tepatnya), minggu lalu ke dokter, Kaka cuma diperiksa biasa aja. Dia dibaringin di tempat tidur periksa, trus bawah rahangnya dipegang. Seperti biasa, dokter ini pelit bicara. Ketika si dokter akhirnya selesai periksa dan balik ke mejanya, saya pun mulai gencar bertanya. dari soal bengkaknya, penyebabnya, apa tindakan selanjutnya, sampai dengan minta penegasan bahwa kesimpulan yang ada di kepala saya benar. Doker itu cuma jawab, "Kelenjar anak ibu udah nggak bengkak. berat badannya juga naik. Jadi kita lihat saja dalam tiga bulan ini apakah kelenjarnya kembali bengkak dan berat badannya turun. Kalau begitu, baru anak ibu dites darah.Bengkaknya kemarin mungkin karena amandelnya." Oke, jadi kesimpulan saya adalah... kelenjar Kaka cuma infeksi. Dikasih antibiotik kemarin langsung kempes. Jadi kekhawatiran saya soal TBC apalagi kanker, nggak banget deh. Ya makllum aja deh, saya ibu muda yang terlalu banyak dapat informasi dari Internet. Padahal saya nggak punya background ilmu kesehatan sama sekali.

Kamis, 09 Juli 2015

Antara Mama, Ibu, Bunda, Ummi

Saya tertawa membaca status Facebook seorang teman hari ini, Kamis (9/7/2015). Soal panggilan ibu. Kata dia: sudahlah, pakai kata "ibu" saja, tak usah diganti dengan "ummi", "bunda", atau "mami". Kalau diganti, nanti kepanjangan ASI berubah menjadi ASU, ASBUN, dan ASMA. Ha-ha. Ah, ini mengingatkan saya empat tahun lalu, ketika menantikan saat-saat menjadi ibu. Oh ya, nggak perlu lah dijelasin lagi bahwa saya ibu (muda) beranak satu. Ibu muda, alias imud #eh. Dulu, saya sempat berdebat dengan suami soal panggilan si calon bayi kepada kami. Saya sih pinginnya "ibu" dan "bapak" biar Indonesia banget. Saya nggak ngikutin panggilan "emak" atau "aba" untuk kedua orangtua saya. Bukan takut terkesan ketinggalan zaman, tapi ya biar lebih Indonesia aja dengan panggilan "ibu-bapak". Saya juga udah kenal panggilan itu sejak SD, lewat pelajaran bahasa Indonesia "Ini ibu Budi, ini bapak budi dan saudara-saudaranya, Iwan dan Wati. Dalam bahasa formal juga kita lebih sering menggunakan ibu kan daripada yang lain. Apalagi "ummi" yang jelas Arab banget. Iya iya... saya tau, banyak juga kok kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Bahkan ada yang percaya bahwa 9 dari 10 kata dalam bahasa Indoensia adalah asing. Bukan Arab aja sih, ada Sansekerta, Jawa, Belanda, Inggris, Latin, dll. Eh kok jadi bahas ini. Tapi ya, panggilan "ibu-bapak" itu nggak dapat restu dari suami saya. Suami saya itu juga orang Indonesia, cuma mungkin dia lebih ngerasa modern aja daripada saya (maaf ya suami, itu kesan saya lho). Dia pengen, calon anak kami itu memanggil kami dengan kata "mama" dan "papa". Mungkin itu seperti "mommy dan daddy" bagi orang Amerika. Aih... Dengan berat hati, demi menghormati suami (daripada dia milih dipanggil "om", anak gue bisa jadipertanyaan dong, bapaknya siapa?), saya akhirnya setuju. Toh panggilan itu juga paling banyak digunakan di negara saya ini. Maka ketika anak saya itu lahir, saya mulai mengajarinya memanggil kami dengan kata "mama" dan "papa". Nggak perlu waktu lama juga sih, karena ternyata kata panggilan itu termasuk kata-kata awal yang mampu diucapin bayi. Awalnya saya nggak masalah. Saya menyebut diri saya dengan kata "mama" di depan bayi saya, dan saya menggunakan kata ganti "papa" untuk suami saya. Tapi... panggilan itu mulai menjadi masalah ketika suami saya mulai belajar manggil saya dengan sebutan "mama" juga. Kok aneh ya. Kok saya ngerasa dia manggil mamanya, meski kami sebenarnya nggak serumah dengan mertua. Iya, dia manggil ibunya juga dengan sebutan "mama". Jadi saya sering kali nggak nengok kalau dipanggil "mama". asal tau aja, dari zaman pacaran, saya dan suami punya kebiasaan yang nggak sengaja manggil dengan sebutan "sayangku" (Ih, jangan diketawain dong). Tapi menjelang menikah saya memanggil dia "punkku" (juga jangan diketawain), meski dia tetap dengan panggilan awal. Balik lagi ke panggilan "mama". Merasa risi dengan panggilan itu, bahwa saya bukan mama dia, akhirnya saya minta dia jangan manggil saya dengan sebutan itu. Kalau anak sih tetap ya... Cuma belakangan ini, anak saya yang usianya hampir 4 tahun itu juga ikut-ikutan manggil kami dengan sebutan masing-masing tadi, "sayangku" untuk saya dan "punkku" untuk suami saya. Saya kasih tau dong bahwa panggilan itu cuma berlaku di antara kami, bukan kita (nggak perlu dijelasin ya beda "kami" dan "kita"). Kalau dia tetap harus "mama" dan "papa". Dia nurut sih. Cuma kadang-kadang aja dia ngeledek dengan manggil saya atau suami dengan "sayangku" (yang dia lafalkan dengan "cenggu") dan "punkku". Abis itu, dia ketawa dengan ekspresi isengnya. Nggak masalah sih, asal jangan dipanggil "ummi" aja, ha-ha.