Senin, 06 Juli 2015
Antara Anak dan Kerjaan
Saya cinta anak saya. Saya juga suka pekerjaan saya, terutama bagian keluar Jakarta. Nggak perlu lah ya dijelasin siapa anak saya itu, dan apa pekerjaan saya. Tapi kadang-kadang ada kontradiksi di anatar dua hal ini. Misalnya, waktu saya harus ke luar kota, anak saya sakit. Terang saya nggak bisa meninggalkan anak saya dalam keadaan sakit.
Pernah juga sih itu saya lakukan. Waktu itu ada ibu saya di rumah, dan itu yang bikin saya memutuskan untuk berangkat. Dan ternyata saya nggak tenangnya minta ampun. Sepanjang masa tugas luar kota itu saya selalu deg-degan. Setiap HP bunyi, jantung saya berdebar kencang, kayak lagi nunggu telepon dari pacar. Mau makan juga nggak nafsu, kayak orang yang lagi jatuh cinta dan cukup kenyang dengan mikirin si dia.
Nah, tugas luar kota saya waktu itu ke Lamandau, sebuah kabupaten muda yang namanya cuma saya kenal dari nama sebuah jalan di daerah Kebayoran Baru. Kabupaten itu adanya di Kalimantan Tengah. Agak terpencil sih. Dan karena terpencil, sinyal HP sering kali hilang. Itu juga yang bikin saya deg-degan. Bukan karena saya orang penting yang harus selalu bisa dihubungi. Tapi kan anak saya lagi sakit. Bagaimana kalau ada hal penting yang harus segera disampaikan ke saya? Atau anak saya ini tiba-tiba pengen ngomong sama saya?
Tapi pernah juga itu saya tolak. Waktu itu tujuannya ke Teluk Wondama, Papua. Whuii... saya pengen banget ke sana, meski dulu banget udah pernah nginjak Papua. Tapi Teluk Wondama kan lain. Itu daerah keren banget. Kata orang yang pernah ke sana, itu nyaris setara dengan Raja Ampat lah, meski saya juga belum pernah ke Raja Ampat. Pasti eksotis banget. Apalagi denger perjalanannya ke sana yang mesti naik peswat kecil berkapasitas belasan orang aja. Yang katanya kalau di atas suka matiin mesin dan ngikut arah angin aja. Yang katanya ada alternatif naik kapal laut seharian. Yang katanya ongkosnya jadi mahal banget.
Pernah juga saya nolak ke NTB, yang ada kunjungan ke Lombok. Biar kata saya udah pernah nginjak ujung barat dan ujung timur Indonesia, Lombok ini belum pernah saya datangi. ini lagi-lagi karena anak saya sakit. Waktu itu kebetulan saya juga baru sehat sih. Tapi itu bukan halangan. Kalau saja anak saya sehat, pastilah saya hajar juga tuh tuga Lombok. Pengen juga dong ikut merayakan tempat yang banyak didatangin wisatawan itu. Jadi kalau lagi ngumpul sama temen-temen, dan ditanya, "Udah pernah ke Lombok?" saya bisa bilang, "Udah." Ya, soalnya temen-temen saya kan nggak mungkin nanya, "Udah pernah ke Lamandau?" "Udah pernah ke Tanjung Jabung Barat?" "Udah pernah ke Luwu Timur"
Tapi ya, yang paling fenomenal itu adalah, menolak tugas karena larang suami. Wuih... ini nih sakit banget buat saya. Ini artinya suami nggak ngehargain kerjaan saya. Kerjaan yang dari udah saya lakonin bahkan sebelum ketemu dia. Kerjaan yang saya suka ini. Kerjaan yang kalau nggak saya lakonin, saya bingung mau kerja apa lagi. Lho, kok tiba-tiba bahas ini? Ya karena ini juga suka pake alasan anak. Mungkin sih sebenernya gengsi aja, dia nggak pengen kehilangan saya meski cuma beberapa malam.
Oke, ini kayaknya perlu dibahas panjang. Sekalian curhat. Soal kerjaan dan suami. Dulu... banget, cita-cita ideal saya tentang keluarga adalah punya keluarga yang saling menghormati. Ngehormatin privasi saya, keluarga besar saya, kerjaan saya, teman-teman saya, dan semua orang yang telah berlaku baik pada saya. Saya juga pengen punya keluarga yang nggak banyak ngelarang saya melakukan sesuatu yang saya sukai, selama itu baik. Soal baik dan buruk, hei.. saya kan udah tua. saya pasti tau mana yang layak dikerjakan dan nggak. Meski pernah juga kecolongan, misalnya ninggalin anak sakit buat ke luar kota (ini pasti saya punya pertimbangan sendiri).
Lalu, saya berpikir, kalau ada suami yang melarang istrinya melakukan hal yang disukai, kasihan sekali istri itu. Bayangin ya, waktu gadis, dia dilarang melakukan banyak hal yang dia sukai sama orangtuanya. Wajar, orangtua tentu khawatir anak yang dibesarkannya kenapa-kenapa. Nah, pas udah tua, masih dilarang pula sama suami. Kapan si istri ini bisa melakukan yang dia suka tanpa larangan? Alasan si suami mungkin juga khawatir. Oke masih bisa diterima, bisa jadi dia emang cinta. Tapi... kalau ysuami ngerang karena khawatir, tapi khawatirnya bukan istri kenapa-napa, melainkan khawatir karena cemburu. Wuihhh... sakit. Artinya apa sodara-sodara? si suami nggak percaya sama istri. Kenapa juga dulu dikawinin?
Oke kembali ke anak. Jadi, sekarang ini anak saya dalam keadaan nggak sehat. eski dibilang nggak sakit juga sih. Ada infeksi di kelenjar getah beningnya. Dia harus minum antibiotik dua kali sehari, dengan ukuran yang saya percaya hanya saya yang bisa memberinya. Makanya saya harus pulang cepat terus, bukan cepat sih, tapi on time. Tinggal sehari lagi. Tapi untung saja, selama anak saya sakit, nggak ada penugasan luar kota yang psti bakal bikin saya bimbang.
Eh, kok saya ngerasa postingan ini bukan soal anak dan kerjaan ya? Tapi soal suami dan kerjaan. Tapi, soal anak dan kerjaan ini pastilah jadi dilema semua ibu, ibu yang memang menginginkan anak itu, seperti saya.
Senin, 25 Mei 2015
Huh! Tabrakan Itu Bikin Panik
Tabrakan Beruntun Terjadi di Tol Jakarta-Cikampek. Mungkin itu judul berita yang akan ada di media online, Sabtu, 16 Mei 2015 lalu. Tapi untung aja kecelakaan yang kami alami itu nggak dahsyat, jadi nggak perlu lah sampe masuk media online kayak gitu.
Hari itu, kami, saya, kaka, om, tante, adik, dan dua keponakan, berencana ke BAndung. Om dan tante mau undangan, saya sih cuma jalan-jalan. Seperti biasa, om yang nyetir. Perjalanan dimulai dengan ocehan si kaka. Anak ini banyak benar omongannya. Segala jalan ditanya. Nah, bosan nanggapin omongan si kaka, muncullah ide nelp Nad. Mobil masih di kawasan tol Jakarta Cikampek. Belum masuk Bekasi. Tut... tut... akhirnya telp diangkat, pake tab tante. Ini bukan telp biasa, tapi video call yang bikin orang diujung sana nongol secara real time. Ngobrol lah semuanya, dimulai dari pertanyaan2 ringan, di mkana, mau ke mana, dll. Sampai akhirnya si om yang lahi nyetir penasaran, ngeliat anak ceweknya yang lagi merantau jauh di Sulawesi Tenggara sana. Pertama sih aman. Tapi nggak lama kemudian... "BRARRR" mobil yang kami tumpangi seperti ngerem mendadak. Saya belum sadar sampe melihat satu ponakan, yang umurnya belum 3 tahun, diangkat. Lalu saya sadar ini tabrakan ketika ngelihat kap depan mobil yang sudah naik. Kaka dipegang tante, setelah nabrak dashboard.
Sementara si om keluar ngurusin tabrakan ini, saya merhatiin si kaka. Bibirnya pucat. tak lama kemudian, keringat dingin. Lalu ia minta tiduran di bangku tengah. Saya tany, "Pusing ka?" "Pusing..." Kaka menjawab terparah-patah. Saya diamkan sebentar. Tiba-tiba matanya terpejam. "Bangun ka... bangun..." kata saya. Karena panik, saya ngoceh sendiri. Lalu muncullah pikiran bahwa saya harus bawa kaka ke RS terdekat. Maka saya keluar, mau nyetop mobil, apa pun di depan saya. Karena belum dapat, saya masuk lagi ke mobil melihat kondisi si kaka. keringatnya bertambah banyak. bibir masih pucat. Saya keluar lagi cari mobil. Maka saya setoplah Avanza merah, dengan dua laki-laki di dalamnya. "Mas, minta tolong anter ke rumah sakit yang paling dekat," kata saya. MObil itu mendekati mobil kami, lalu si supir keluar. Badannya besar. Kulit agak gelap, dengan sedikit berewok. Ketika keluar, tangannya sibuk memasang sabuk, dan mungkin narik ritsleting celana jeans-nya. Alamak..... ngeri sekali. "Cepat bu, macet," katanya. Sambil menggendong Kaka, saya masuk ke mobil. Tapi sebelumnya saya udah pesan sama si om, catat nomor plat mobilnya.
Kami ke RS Mitra Keluarga Bekasi. Langsung ke IGD. Seingat saya, si supir mobil itu ikut turun dan mengikuti saya dari belakang. Tapi ketika di dalam IGD, say atak melihatnya. Maka saya segera keluar, dan melihat mobilnya di kejauhan. Astaga... jadi saya tadi sempat curiga sama orang yang niat baik nolong. Maafkeun... Belum sempat bilang terima kasih pula.
Kaka diperiksa oleh dr Yuliana, dokter jaga yang sedang kedatangan banyak pasien IGD. Tak lama Kaka diperiksa, kesimpulannya Kaka nggak apa-apa. Tapi kalau saya nggak yakin, saya boleh CT scan kepala Kaka saat itu jg. Tapi si dr menyarankan observasi dulu dua hari di rumah. Kalau muntah banyak dan kesadaran menurun yang ditandai dengan tidur terus, Kaka harus dibawa ke rumah sakit lagi. Syukur, itu nggak terjadi. Dan Kaka normal lagi. Dia sempat mabuk kendaraan di taksi dari Bekasi ke Depok, tapi sepertinya itu masuk angin. Sampai di rumah, ketika makan, lagi-lagi dia muntah. Tapi itu nggak berlanjut, setelah dia tidur, kondisinya kembali normal. Normalnya kaka adalah, loncat-loncat di kasur, lari sana lari sini, ngoceh, iseng, dan banyak lagi.
Mungkin saya waktu itu cuma panik. Apalagi kalau ingat cerita anak tetangga di Lampung yang keserempet motor, kondisinya biasa aja dan tak ada lecet apalagi luka, tapi tiba-tiba besoknya koma. keluar darah dari hidung dan telinga. Lalu meninggal dalam beberapa jam. Tentu saya sangat tidak berharap kejadian itu menimpa Kaka.
Senin, 02 Maret 2015
Dipanggil Tante oleh Mahasiswa Semester Dua
Sebelum saya cerita panjang, saya mau menggambarkan sedikit tentang para penghuni kompleks saya. Kompleks ini usianya lumayan tua. Para penghuninya seangkatan tante saya yang anaknya udah pada kerja. Saya termasuk penghuni baru tapi lama. Kenapa? Dulu, masa SMP dan SMA saya dihabiskan di sini. Lalu kuliah keluar, dan kembali lagi ke sini, menempati rumah dari tangan kedua, yang pemilik sebelumnya juga sudah cukup berusia. Maka, saya sekarang termasuk penghuni baru dari kelas termuda.
Saya punya tetangga, pasangan beranak satu. Usianya lumayan jauh dari saya. Anaknya itu sudah mahasiswa, semester dua di ITB. Sesekali saya datang ke rumahnya, ngobrol. Atau berbagi pengetahuan tentang rajutan. Kadang-kadang anaknya nimbrung. Kalau dia cerita dan ingin menyebut saya sebagai orang kedua tunggal, dia nggak pake kata "kamu", apalagi "elo", mungkin menurutnya terlalu kurang ajar. Bisa saja dia bingung mau manggil saya apa, tapi akhirnya dia memilih "tante", seperti ia memanggil teman-teman ibunya.
Aih... saya dipanggil "tante" oleh mahasiswa semester dua. Tua sekali. Saya jadi berpikir, "Jangan-jangan sebenarnya saya memang sudah tua, tapi nggak mau terima." Lalu saya menghitung usia. "Ah, saya masih muda, cuma tampang saya aja yang tua, setua ibunya." Nnggak juga sih sebenarnya. Lalu saya bercermin secepatnya. Ah masih muda. Buktinya, belum banyak kerutan di muka, cuma ada satu... dua... tiga... empat... lima... Eh... banyak ternyata! Ah, tapi tenang, cermin kan suka berdusta. Sungguh, sebenarnya saya masih muda.
Amang Sakit
Tersedu-sedu, laki-laki di seberang sana berbicara, "Saya sakit... Stroke...."
"Hah? Stroke?" Saya mengulang kata terakhirnya dengan nada bertanya, suara lebih keras dari biasanya.
Saya kaget, jelas. Saya langsung teringat Aba yang belum genap setahun lalu meninggal dunia karena stroke. Tak lama sakitnya, hanya tiga hari saja di rumah sakit. Saya sempat bertemu dengan Aba di hari terakhir hidupnya. Dengan napas tersengal-sengal dan sebuah alat bantu napas, mata tertutup, dan tubuh lemasnya terbaring di tempat tidur. Sedih tiada terkira saya melihatnya.
Tapi, ini bukan cerita tentang Abba. Di seberang sana, Amang (mamang, om, paman), yang menelepon saya tadi, Minggu (7/9/2014) pagi, juga mengalami sakit yang sama. Amang kena stroke ringan. Kakinya lemas. Masih bisa berdiri dan berjalan berpegangan, hanya seperti orang mabuk yang rasanya hendak terjatuh selalu.
Dan yang membuat saya ingin menangis adalah, Amang tak punya tempat untuk pulang. Mungkin itu yang membuatnya sempat memutuskan untuk pulang ke Sulawesi, ke rumah adiknya, satu-satunya saudaranya yang masih bernapas. Di sana, katanya, Amang akan berobat tradisional. Seorang keponakannya, sepupu yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, akan menjemputnya dari Surabaya. Dari Surabaya, Amang akan terbang ke Sulawesi.
Tapi, memabayangkan bagaimana Amang akan diobati di sana, saya tidak tega. Apalagi mendengar bahwa di sana agak terisolasi. Lebih terisolasi daripada kampung nenek di Lampung. Maka, saya membujuknya agar mau berobat di Jakarta. Berobat dokter. Saya yakin, kemungkinan sembuhnya masih sangat besar.
Amang akhirnya mau. Sempat bertanya, "Ke mana saya nanti? Ke Depok?" Ya, Mang. Tentu ke Depok. Saya akan mengantar Amang ke dokter. Saya tahu, Amang tak punya tempat pulang. Buat Amang, pulang itu ke Sulawesi. Saya belum pernah ke sana, jadi saya tak bisa menilai bagaimana Amang bisa merasa nyaman di sana.
Amang sebenarnya punya keluarga. Seorang istri dan dua anak. Istrinya di Indramayu. Anak pertama baru bekerja di daerah Sunter, anak kedua entahlah. Mungkin di Indramayu juga. Saya menilai, Amang tak dekat dengan keluarga. Mungkin karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan di laut. Jarang pulang. Entahlah.
Tapi, Amang cukup dekat dengan keluarga dari ibu saya. Dulu, Amang tinggal bersama kami, sewaktu saya masih balita. Saya tak terlalu banyak kenangan dengan Amang. Tapi Amang ini mengingatkan saya pada Abba. Dan Amang cukup peduli pada Abba.
Dan selama di Depok, anaknya yang laki-laki merawatnya. Toris namanya. Akhirnya saya mengenal anak itu. Anak yang diminta datang dari Indramayu. Sebulan Amang di Depok. Lalu ia terbang ke Sulawesi, bersama anaknya itu. Sebulan ini memang tak banyak perubahan. Dokter bilang, butuh waktu. Apalagi penanganan darurat ketika pertama kali serangan stroke itu datang, tidak benar. Harusnya Amang dirawat, katanya. Ah tapi ya sudahlah. akhirnya Amang ke Sulawesi. Dan kabar terakhirnya, sudah bisa berjalan. meski pakai tongkat. Tangannya yang kiri belum berfungsi normal, tetapi sudahbisa digerakkan. Setidaknya, Amang sudah tak lagi tergantung pada orang untuk melakukan hal-hal yang sifatnya pribadi.
Kaka Mau Sekolah
Usia berapa seorang anak sebaiknya mulai sekolah? Jawabannya bakal beragam banget. Tapi gue milih daftarin Kaka sekolah, ya sekarang-sekarang ini, menjelang 4 tahun. Gue juga bingung si Kaka bakal masuk kelas yang mana. mau kelompok bermain yang 3 tahun, usianya udah lewat. Mau TK yang usianya 4 tahun, belum cukup.
Agustus nanti, Kaka 4 tahun. Sementara sekolah dimulai Juli. Artinya, usia Kaka kurang sebulan buat masuk TK. Tapi ya sudahlah, terserah nanti hasil observasi sekolah yang menentukan. Dua minggu ini, gue udah mulai sibuk sama persiapan Kaka sekolah. Pertama, tentu aja nyari sekolah, mulai dari 14 Feb 15 lalu. Sebenarnya ini bukan kerjaan yang susah-susah amat, tapi entah kenapa males banget survei langsung ke sekolahnya. Ada beberapa sekolah yang saya incar, tentu aja semuanya deket rumah.
Pertama, Semut-Semut yang ada di Kompleks Perindustrian, Jl. Industri Kapal Dalam,RTM, Kelapa Dua, Depok. Dulu ada anak tetangga yang sekolah di situ. Anak dosen saya juga. Ini sekolah alam berbasis Islam. Tempatnya asri banget. Selain kelompok bermain dan TK, ada SD-nya juga. Konon pendafatarannya mahal, tapi setelah mengunjungi websitenya ternyata nggak jauh beda sama yang lain. Pendafatran Rp 8,25 juta, uang bulanan Rp 550 rb, dan seragam 350 ribu. Menjelang naik ke TK B nanti, akan ada uang kegiatan setahun Rp 1,6 juta. Oh ya, formulirnya Rp 300 ribu.
Kedua, TKIT Fitri yang juga ada di jalan yang sama dengan Semut-semut. Dari namanya aja ketahuan ya ini sekolah Islam. Tetangga ada yang nnyekolahin anaknya di situ, katanya bagus. Tapi bagus itu relatif sih kalo buat anak TK. Kalau menurut tetangga saya itu sih, anaknya hapal banyak doa dan surat-surat pendek. Saya sempet datang ke sekolah ini dan ketemu sama kepala sekolahnya. Dia ceritalah visi misi sekolah ini, berikut aktivitas anak di sini. Dari situ, saya jadi nyadar, sekolah ini mirip Nurul Fikri ya? Cuma biayanya jauh lebih murah, pendaftaran tahun ini aja sekitar Rp 7.650.000, formulir Rp 175 ribu, uang bulanan Rp 575 ribu. Dan kalau mau naik ke TK B, daftar ulang buat biaya kegiatan selama tahun berikutnya sekitar 2,6.
Ketiga Khonsa, di Jl. Pondok Duta Raya. Saya pengen masukin si Kaka ke sekolah ini dari umur 1,5 tahun, sekalian daycare-nya. Waktu itu biayanya masih Rp 3,75 juta. Nah, sekarang udah naik jauh banget. Pendaftaran Rp 7,9 juta, bulanannya gue lupa. Sekolah ini gampang banget ditemukan karena pas di pinggir jalan. Tulisan nama sekolahnya besar dengan huruf dan gambar yang menarik. Ini juga sekolah berbasis Islam. Sempet juga sih pengen masukin Kaka ke sini biar sekalian ikut day care. Tapi kepikiran lagi, ntar sorenya siapa yang jemput? Emang gue bisa? Emang papanya bisa? Belum tentu kan. Akhirnya ya sudah, sekolah ini dicoret.
Tau yang mana akhirnya saya pilih? TK Fitri. Selain ada anak tetangga, sekolah itu juga yang direkomendasiin tante. Dari Kaka kecil banget, tante udah ceriita tentang sekolah ini terus. Rupanya, sekolah ini udah dikenal sejak dahulu kala di kalangan ibu-ibu masjid di kompleks gue. Anaknya bu itu dulu di sana, sekarang udah kuliah. anaknya bu anu juga di sana, sekarang udah punya anak. Buset... Eh yang busetnya lagi... gue udah punya anak yang mau sekolah. Artinya... Buset, gue udah tambah dewasa, kalau nggak mau dikatakan tua.
Rabu, 06 Agustus 2014
Terbang yang Menyenangkan
Ini cerita Kaka waktu mudik ke Bengkulu, 27 Juli-4 Agustus 2014. Ini bukan kali pertama sebenarnya, dua tahun lalu, Kaka pun mudik ke sana. Sama-sama naik pesawat. Dan syukurnya, selama terbang dia nggak pernah rewel.
Kalau dulu, Kaka masih bayi. Hal paling saya jaga adalah pendengarannya, katanya selama terbang mesti disusuin. Tekanan udara di pesawat berbeda dengan di darat. Kalau nggak waspada, kuping jadi nggak nyaman.
Tahun ini, kami memilih Lion Air, maskapai yang terkenal sama delay, sempit, dan gerahnya. Ya, di antara maskapai lain, singa terbang ini memang paling nggak nyaman. Sebenarnya saya menghindar banget dari masakapai satu ini. Tapi, berhubung maskapai ini yang nawarin tiket paling murah menjelang jadwal mudik, jadilah saya pilih ini. Rp 4,6 juta bertiga, pulang-pergi.
Ketidaknyamanan pertama datang ketika pesawat dikabarkan delay. Ini sih nggak aneh lagi, cuma saya berdoa supaya delaynya jangan lama-lama amat. Soal delay ini udah bisa saya tebak dari jadwal penerbangan lain dari masakapai yang sama, yang juga delay. Ah ya sudahlah. Akhirnya, pesawat kami delay sekitar satu jam. Tapi Kaka punya dibikin nggak bosan dengan game di iPod, juga selingan main dengan anak lain yang juga menderita karena delay ini.
Begitu pesawat siap dinaiki, Kaka mulai rewel. Dia minta makan. Dikasih roti, nggak mau. Dikasih biskuit, juga nggak mau. Susu, juga ditolak. Aih.. akhirnya saya pergi keluar, cari restoranb terdekat dengan ruang tunggu. Dari tiga restoran yang saya datangi, nggak ada yang nyediain layanan take away. Saya pun menyerah. Mungkin lebih tidak berisiko membujuk Kaka nahan lapar dibandingin saya melangkah lebih jauh buat cari makanan, di tengah panggilan penumpang penerbangan saya yang mulai dipanggil.
Saya siap nerima risiko kalau nantinya Kaka nangis karena kelaparan. Atau pilihan terakhir adalah beli makanan di pesawat. Meskipun Lion Air nggak ngasih makanan, dia nyiapin makanan yang buat dijual kok. Jadi saat peswat udah stabil di atas, pramugarinya bakal hilir mudik dorong gerobak makanan. Bukan gerobak kayak gerobak ketoprak atau bubur ayam itu lho, tapi rak kayak buat nganter makanan di restoran.
Kaka begitu antusias masuk pesawat. Buat dia, pesawat itu sungguh mengagumkan. Dari kecil, kalau nangis, cukup dikasih liat pesawat yang lagi terbang, dia bakal berenti. Dia juga seneng sama mainan peswat, meskipun kalau diajak ke toko mainan, pilihan utamanya adalah truk atau back hoe. Tapi, buat dia, pesawat itu hiburan. Dan ketika udah duduk, dia lupa sama laparnya.
Di pesawat, Kaka duduk sendiri. Iyalah, tiketnya udah seharga orang dewasa kok. Awalnya sih seneng, cuma agak aneh pas dipakein sabuk pengaman dan sempat minta dicopot aja. Ketika dibilangin bahwa sabuk pengaman dipasang supaya dia nggak jatuh dari kursi, dan kalau dilepas bakal diomelin si tante pramugari, akhirnya dia pasrah. Dia milih sibuk mainin sabuk pengaman itu. Gerahnya pesawat sempat bikin gue takut dia rewel, akhirnya kertas instruksi keselamatan pesawat pun gua jadiin kipas.
Kaka senang ketika pesawat udah di atas, sabuk pengamannya di lepas dan dia bisa ngeliat awan. Sayang, Kaka duduk paling pinggir, bukan dekat jendela. Yang deket jendela ada mas-mas. Akhirnya, Kaka gue pangku buat bisa liat awan. Dan setelah dipangku, dia nggak mau duduk sendiri lagi. Dia banyak nanya, ngomong sendiri, dan main sendiri. Kekhawatiran saya dia bakal ngamuk karena kelaparan pun hilang. Sampai mendarat, dia nggak rewel, cuma pengen dipangku terus aja.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Kaka lebih pede. Dia duduk di pinggir dekat jendela. Sendiri. Dia udah mau pake sabuk pengaman, nggam mau lagi dipangku, dan banyak nyanyi dan ngomong sendiri. Sekali dia minta susu, abis itu sibuk dengan majalah dan kertas instruksi keselamatan pesawat. Sementara, seorang anak lain nangis mengerang-erang di depan sana. Buat Kaka, seperti apa pun masakapainya, terbang itu menyenangkan.
Selasa, 20 Mei 2014
Palmerah vs Palkuning
Setiap pagi menjelang siang, Kaka nggakmau jauh-jauh dari saya. Dia tau bahwa saya bakal berangkat kerja sebentar lagi. Dan, sebelum kerja dia selalu nanya yang sama.
Kaka: "Mama mau ke mana?"
Saya: "Mama mau kerja."
Kaka: "Kerja di mana?"
Saya: " Di Palmerah, itu dekat Slipi."
Kaka: "Naik apa?"
Saya: "Naik ojek, kereta, angkot."
Kaka: "Kaka ikut, ya..."
Biasanya percakapan diakhiri dengan jawaban saya, bahwa saya mau kerja, di kantor saya nggak ada anak kecil, nggak ada makanan, bla... bla...
Tapi, kemarin ada yang sedikit berbeda, meskipun Kaka membuka percakapan pagi menjelang siang kami dengan pertanyaan biasa.
Kaka: "Mama mau ke mana?"
Saya: "Kerja."
Kaka: "Di mana?"
Saya: "Di Palmerah."
Kaka: "Palkuning aja ya..."
Huahahaaa.. saya ngakak. percakapan pun berhenti di situ. Kaka memandang saya heran. Bagi dia, Palmerah adalah Pal+merah. merah itu bisa diganti dengan warna lain. Nggak kepikiran juga sih sama saya.
Langganan:
Postingan (Atom)