Jumat, 10 Mei 2013

Kutu!

sodara-sodara, apa yang akan Saudara lakukan begitu menemukan telur kutu di rambut si kecil? Menggundulinya? Melumuri kepalanya dengan obat antiserangga? Atau menlepaskannya satu per satu, kemudian mencari induknya di sela-sela rambut gondrongnya? Saya nemuin telur kutu di rambut kaka. Banyak. Ada yang sudah kopong dan ada yang masih berisi. Awalnya saya nggak percaya bahwa kaka kutuan. Dari mana? Lagi pula, saya pikir, mungkin-mungkin aja ada telur kutu, tapi kutunya nggak ada. Kan hampir setiap hari kaka dikeramas, mungkin kutunya ikut pergi dengan busa-busa sampo. Tapi ternyata tidak, sodara-sodara. Sehari setelah saya menemukan telur kutu itu, saya menemani kaka menjelang tidur malamnya. seperti biasa, dia minta dielus-elus di bagian punggung (ini kebiasaan yang diciptakan sama si mbaknya, buat dia mungkin nggak ngerepotin, buat gue ini kerjaan banget.) Sesekali, dia minta garukin. Dan, apa yang terjadi di malam itu? Kaka memang minta digarukin,tapi bukan di punggung, di kepala! Astagahh.... Saya langsung teringat, apakah ini karena ulah si kutu rambut? Jadi benar dong, si kaka bukan cuma punya telur kutu, tapi juga kutunya! Rasanya geregetan, malam itu juga, setelah dia tidur, saya telusuri sela-sela rambutnya. Nggak jelas tentunya, gelap. Oke, kayaknya saya mesti bersabar nunggu besok. Ketika akhirnya pagi datang, saya langsung menjalankan misi impian sejak semalam. Nyari kutu. Tuh kan... kan... bener kan... ada kutunya, kecil-kecil. nempel banget di kulit kepalanya. nyaris transparan. dan nggak cuma satu. Huhuhuuuu... semangat dong nyariin di sela-sela rambutnya lagi. Tapi dasar anak-anak ya...nggak betah diam dan kepalanya diobrak-abrik. ah... ya sudahlah. Saya jg harus berangkat kerja. Solusinya, menurut suami saya, kaka dibotakin. Ihhh.. pdahal saya pengen bikin kaka gondrong kayak roker. Sebenarnya rambut kaka baru dipotong, minggu lalu. ini juga dilema sebenarnya. Saya pengen dia gondrong. Bapaknya pengen dia dipotong mohawk kayak pemain sepak bola entah siapa namanya. Tapi akhirnya saya potong sendiri, tanpa model, sambil lari-lari dan kaka teriak-teriak, "tatitt..." Keputusan motong rambut ini juga sebenarnya berawal dari garuk-garuk kepala juga. Suami saya bilang gatalnya itu karena rambutnya gondrong. salah kan teorinya. Itu karena kutu. Kutu itu udah bercokol dari minggu-minggu lalu kali. Oke, sakarang kita bahas soal kutu. Saya pernah ngajuin ide ini buat tulisan di majalah MB, waktu saya masih kerja di situ. Tapi, ternyata udah pernah dibahas, belum lama. Saya nggak nemuin itu di katalog artikel yg pernah terbit karena memang belum dimasukin, saking barunya. Mana saya tau. Saya pernah searching, kutu itu bukan masalah orang indonesia doang, atau orang miskin, atau orang kampung doang. Di babycenter.com, ditulis bahwa kutu itu serupa infeksi, jadi bisa nyerang siapa aja dan menular. sebaiknya dibawa ke dokter. Seserius itukah? sebenernya kutu nggak membunuh, cuma bikin nggak nyaman aja. Kayak panuan, kamu nggak bakal mati karena panu, cuma nggak asyik kan? Cuma, saya belum pernah denger orang Indonesia bawa anaknya ke dokter karena kutuan. Mungkin ada, saya nggak denger ceritanya karena orang-orang itu bukan di lingkungan saya. Kebanyakan sih pake obat kutu aja, pedi*** misalnya. atau kalau di kampung saya zaman kecil dulu, disemprot ba***n. Tapi, apakah keduanya aman buat kaka? Kutu memang identik sama orang kampung, tapi ternyata, menurut dokter di babycenter lagi, kutu tuh bisa nyerang siapa aja. Nggak pandang kaya, miskin, orang kita, orang kampung, atau apa pun lah. Yah, anak kota juga kutuan, kan, kadang-kadang? Cuma, memang ada karakteristik rambut yang disukain kutu. Kalau di amerika, misalnya, kutu lebih suka di rambut orang afro karena rambutnya kaku dan bergelombang. Mungkin dia ngerasa nyaman di sana. Di Indonesia, karena jenis rambutnya hampir sama, mungkin kutu lebih senang di rambut yang kotor. Tapi, sekali lagi... rambut kaka bersih. hampir tiap hari dikeramas. jadi kenapa bisa kutuan? Saya boleh berprasangka dong. Mungkin dari mbaknya. Saya nggak pernah ngecek mbaknya kutuan apa nggak. Tapi, karena kaka kalo siang mungkin tidur bareng simbak, dan kalau malam menjelang tidur juga ditemenin sama mbak, mungkin aja kan kutunya simbak migrasi ke kepala kaka? lho, kok jd berprasangka. Maaf ya. Tapi intinya, mari kita basmi kutu-kutu itu!

Rabu, 03 April 2013

Kamus Kaka

Entah bagaimana awalnya, Kaka selalu mengatakan "mau" untuk kata "minta". Kadang-kadang juga dia pake "aji (lagi)". Tadi pagi, misalnya, waktu saya menyiapkan makanan untuk sarapannya, dia bilang "mau..." Artinya, dia minta makanannya. Sedikit banyak, Kaka udah bisa ngungkapin kemauannya lewat kata. Kalau minta digarukin, dia bilang "gata", kalau minta minum juga dia bilang "minum", kalau mau susu dia bilang "susu". Dia juag udah bisa nyebutin orang-orang di sekitarnya. Konon, anak seumur dia sih udah bisa ngerangkai frasa sederhana, seperti "mau susu". Tapi kaka baru bisa ngucapin satu-satu. berikut daftar kata yang paling sering diucapkan kaka: mau: minta aji: lagi apang: kapal udara (pesawat) bita: bintang tjitja: cicak minum: minum gata: gatal andi: mandi moto: motor mobi: mobil halo: handphone ai: air boa: bola apa tu: apa itu ana: mana tu: itu ni: ini nene: nenek aba: abba aba: abang (kalo manggil tukang jualan) ita: ikan gaja: gajah tuda: kuda dede: adek dll

Senin, 01 April 2013

Menangis Semalam(an)

Selasa, 26 Maret 2013, Kaka nangis sepanjang malam. Saya bingung bukan kepalang. Mana pernah ada sih suara berisik tengah malam di kompleks itu! Lalu, tetangga datang. Dia bilang, "Dulu, orang-orang yang ngontrak di rumah ini, anaknya juga nangis tiap malam. Mungkin harus diselamatin dulu." tetangga itu, pun pergi. Ya, tetangga itu mungkin berpikir, Kaka nangis karena digangguin "penunggu" rumah itu. Kami memang baru pindah. Selasa itu adalah malam kedua kami nginap di situ. Saya memang nggak ngadain acara apa pun waktu pindahan, walaupun saya juga pernah dapat cerita dari ibu yang anaknya pernah tinggal di situ bahwa rumah itu "dihuni" oleh nenek-nenek. Makhluk gaib. Saya percaya makhluk gaib, tapi rasanya manusia dan makhluk gaib punya dunia yang beda, bukannya? kalaupun dia gangguin, yah nggak bakal sampe luka juga kecuali luka yang muncul akibat ketakutan kita sendiri. Sebelum tetangga itu datang, papa kaka udah bertingkah luar biasa. Dia, yang tadinya tidur nyenyak tanpa mau tau anaknya nangis, tiba-tiba bangun. Ngambil Kaka dari gendongan saya, terus ngajak Kaka keliling rumah sambil ngomong, "mana yang gangguin kaka? Bilangin, kaka nggak takut." Aha! padahal saya sama sekali nggak pernah cerita soal omongan ibu-ibu tentang penunggu rumah itu. Kaka nangis, pikir saya, bukan karena diganggu. Kaka memang lagi sakit. Udah dari Minggu, 24 Maret, dia muntah-muntah dan lemas. Hari itu memang puncaknya. Dia lemas bukan kepalang. Maunya digendong. Kalau digendong pun, kepalanya maunya nyeder ke yang gendong. Saya kerja, ada mbaknya yang jagain. untung juga ada adek yang memang lagi datang. Laporan adek saya selalu bilang: "Kaka lemas banget. bawa ke dokter aja apa?" Tapi saya bergeming. saya cuma minta dia mantau aja karena saya yakin, kuman di perutnya bakal ilang setelah dimuntahin. Lalu, kaka pun sembuh. Sebenarnya Kaka mau makan,minum apalagi. Tapi ya abis makan-minum langsung muntah, apalagi kalau abis minum susu. Muntahannya bukan cuma susu, tapi juga makanan padatnya. Nah, hari itu, sampai malamnya, saya nggak ngasih Kaka susu. Takut muntah banyak dan tambah lemas. Sepertinya, susu itu biang keladinya. Kaka memang nangis minta susu, tapi saya pikir dia bakal lupa kalau udah ngantuk. Lagi pula, susunya ketinggalan di rumah lama. Ah, kejamnya saya. Saya tahanlah dia, saya kasih air putih aja. Tapi makin lama, tangisnya tambah kencang. Saya pun keluar, ngambil susu di rumah lama, terus langsung saya kasih Kaka. Ajaib. Tangisnya yang kencang dan panjang itu, berhenti seketika. Luar biasa susu itu. Ataukah si nenek penunggu yang sudah tak kuasa? Tak tahulah. Tapi saya ngikutin saran tetangga itu untuk selamatan. Kaka sekarang udah sehat, tanpa berobat. Semoga kami betah dan damai di sana, semoga rumahnya membawa berkah. Dan Kaka nggak perlu lagi nangis semalam(an). Amin.

Rabu, 13 Maret 2013

Kalau Nenek Mudik

Ibu bekerja umumnya jadi gelisah kalau ditinggal babysitter atau PRT mudik. Siapa yang bakal ngurus si kecil saat dia kerja? Dititip di tetangga, nggak mungkin. Dibawa ke kantor, apalagi! Beruntung, gue belum pernah ngalamin itu. PRT belum pernah mudik soalnya. Tapi kalau PRT diambil sama adek, pernah. Itu nggak bikin gue gelisah. Ada ibu, alias nenek si Kaka yang siap jagain Kaka. Nenek Kaka sebenernya tinggal di Lampung, di rumahnya, tempat gue dibesarin dulu. Di sana ada nenek dan ponakan gue. Tapi, sejak gue ngelahirin, nyokap tinggal sama gue. Utamanya sih jagain Kaka, tapi gue tau nyokap seneng tinggal di Depok karena deket sama anak-anaknya. Beberapa minggu sekali, adek gue yang di Priok, di Ciledug, atau yang berlayar, dateng ke rumah. Adek gue yang bontot sih emang tinggal di rumah, jadi nyokap ketemu tiap hari. Persoalannya, nyokap nggak bisa netap. Kadang-kadang harus pulang ke Lampung karena urusan padi atau nenek. Gue nggak mungkin nahan, kan? Sekarang, nenek Kaka harus pulang ke Lampung. Nenek gue, atau buyut Kaka, lagi sakit. Ini dia yang bikin gue gelisah, sampai beberapa kali kebangun tengah malam. Kaka terpaksa tinggal sama PRT gue yang tunarungu itu. Meskipun orangnya sensitif dan pinter ngurus anak, gue tetap gelisah. Gimana kalau Kaka nangis kesakitan, butuh pertolongan, sementara dia nggak denger? Maungecek kondisi Kaka pun nggak bisa karena dia nggak mungkin ditelp. Memang sih, ada bokap gue, alias kakek Kaka yang janjinya ikut jagain. Tapi, kakek Kaka itu perhatiannya cuma ke tv, nonton berita atau dialog politik yang selalu nongol dari subuh sampe tengah malam di tv. Jadi, gue agak sangsi sama perhatiannya ke Kaka. Sebelum berangkat tadi, gue udah nitip sejuta pesan sama mbaknya, dengan bahasa isyarat tentunya. Gue juga udah bikin tabel jadwal aktivitas Kaka, dari bangun tidur sampe tidur lagi, buat jaga-jaga kalau gue pulang malam. Gue juga udah nitip pesen ke kakek Kaka supaya jaga pintu, takut Kaka keluar tanpa sepengetahuan orang rumah. Tapi, ternyata sulit ya untuk menganggap situasi ini sama dengan kalau ada nyokap. Aih... Sebenarnya situasi kayak gini udah beberapa kali terjadi. Nyokap suka pulang kalau waktunya nanam atau panen padi sawahnya yang dikerjain orang. Beberapa kali sukses sih. Tapi, selalu ada bantuan orang lain, selain bokap. Pertama kali, gue ngedatengin sodara dari Lampung spesial buat jagain Kaka. Kedua, gue minta bantuan adeknya om yang kebetulan tinggal di deket rumah. Sekarang, orang yang bisa didtaengin dari Lampung itu memang lagi ke Jakarta, tapi dia mau ngurus pernikahan. Dan nggak bisa diganggu. Terus, adeknya om lagi nginep di rumah sodaranya. Pernah juga gue minta bantuan adek gue yang memang tinggal di rumah, tapi dia kuliah sampe sore, nggakmungkin jg disuruh bolos, kan? Ya sudahlah. Gue cuma berharap bantuan dari tante gue yang baik hati itu, biar sepulang ngajar langsung ke rumah. Sore juga sih, tapinggak sesore papanya Kaka atau gue. Dan, berdoa, semoga semua baik-baik aja.

Senin, 11 Maret 2013

geraham

Orang seumuran gue, atau lebih mudah dikitlah hehe, tentu pernah ngerasain tumbuh gigi geraham paling belakang. Rasanyanggak enak. gue sih beruntung, cuma ngerasa nggak nyaman doang. nggak pake bengkak-bengkak, apalagi operasi. Temen gue ada yang sampe operasi gara-gara tumbuhnya miring, rasanya lebih sakit daripada sakit gigi atau sakit hati, katanya. selama beberapa hari dia nggak bisa makan nasi atau makanan keras lainnya. ehm... sebenernya sih gue mau ngomongin gigi si kaka. sekitar dua bulan lalu, gue baru ngeh gigi gerahamnya udah tumbuh. itu juga dikasih tau sama mbaknya. pantes aja makannya nggak seru. dia ngelephin makanannya terus. akhirnya gue bikinin di abubur. sampe terakhir minggu kemarin. sekarang sih udah gue kasih makan nasi lembek lagi. cuma, untuk lauk, dia memang belum bisa makan yang keras-keras. jadi kalobikin sup, ayam, wortel, dan jagung gue blender kasar. ehm... kata emakgue sih, bentuknya apa pun, yang penting nutrisinya masuk. ya sih... tapi sampe kapan? gue setuju, anak seumuran kaka tuh udah makan makanan keluarga. dia mesti ngelatih rahangnya, supaya tumbuh sesuai dengan usianya. kalo rahangnya tumbuh, giginya juga dapat tempat. kalo nggak tumbuh, giginya bisa ada yang nggak keluar karena nggak kebagian tempat. Gimana ya rasanya kalo tumbuh geraham kayak si kaka? karena kaka belum bisa cerita, jd gue ngebayanginnya kayak kita aja, nggak nyaman. semoga sih nggak kerasa nyeri.

ke ragunan

Waktu hamil si kaka 8 bulan, gue ke ragunan, sama bapake dan omnya si kaka. sekarang, kaka 1,5 tahun,baru sempet ke ragunan lagi. Tapi nggak dengan keluarga besar kami doang, ada juga sepupu-sepupu kaka, faiz, ehsan, dan dika, berserta emak-emaknya. NGgak banyak yang bisa kita lihat karena dateng pas waktunya makan siang. Bekal yang kami siapkan pun dibuka. gelar tiker sewaan dibawah pohon, bersantaplah sambil liat anak-anak main. Ini seperti cerita-cerita keluarga bahagia haha. udah makan, baru deh keliling. Tapi, nggak banyak yang bisa diliat. selain karena waktunya sempit, jarak antarkandang binatang itu terlalu jauh buat ditempuh dengan jalan kaki sambil gendong anak 1,5 tahun. atau bawa anak 8 bulan. akhirnya, cuma bisa ngunjungin kadang gajah, komodo, rusa, dan lupa lagi. padah, dari awal si faiz pengen liat jerapah dan zebra. karenanggak tau tempatnya, plus minus petunjuk lokasi, akhirnya gue bawa aja ke Pusat Primata Schmutzer. Ahay...rupanya di situ pun primatanya sedang tak banyak. mungkin lagi pada studi banding ke pusat primata lainnya. *eh. Akhirnya ya udah, anak-anak cuma bisa nikmatin tempatnya yang gelap, banyak tanaman rambat buatan, dingin, dan lokasi main yang dekat danau. keluar dari situ, hujan turun. kaka tidur. nggak bawa kain gendong. selendang emak gue yang pajang itu pun gue sulap jadi gendongan. sambil nungguin ujanberenti, berdirilah kami desak-desakan dengan pengunjung lain di depan toilet umum. Sumpah gak asyik. pas ujan reda dikit, sambil gendong kaka dengan kerudung emak gue itu, nekadlah kami jalan keluar. tiba-tiba ujan deres lagi. nggak dapet tempat neduh, gue terus jalan di bawah ujan. gue nggak sadar kalo itu bisa bikin kaka sakit, kalo nggak ada ibu-ibu yang teriak, "yak ampun mbak, anaknya kesian amat..." eh, emang gue nggak kesian sama anak gue? jadi kesimpulannya, ke ragunan kali ini cuma nyenengin anak-anak, nyapekin diri. tipsnya, jangan anggap anak 1,5 tahun itu udah gede. dia masih bisa tidur di mana aja dan kapan aja. jadi tetep bawa stroller atau gendongan, dan... sedia payung sebelum hujan.

"Boa...boa...boa..."

Coba kasih kaka sesuatu yang bentuknya agak bulat, lalu tunggu reaksinya. Dia akan naro benda itu di bawah, lalu mundur beberapa langkah, terus lari ke arah benda itu dan nendang. Ya, kaka seneng banget nendang bola. Rasanya ini pengaruh dari bapake dan om-omnya yang penggila bola. Pernah suatu kali gue minta dia buang diaper bekas pakai yang udah gue gulung. Dulu-dulu sih, kalo gue minta buang, dia akan langsung naro di tempat sampah. atau kalo lagi males, dia lempar ke dekat tempat sampah. tapi kemarin, dia taro diaper itu di lantai, terus ditendangnya seperti bola. Ahayy... Entah gue mesti senang atau sedih dengan hobinya ini. Dulu gue juga penggemar sepakbola, sekitar 2000-an awal. sampai-sampai di malam sampai menjelang subuh pas mau ujian skripsi, gue masih sempat nonton bola. di ucapan terima kasih gue, nama beberapa pemain Juventus masuk, meskipun ada protes karena katanya maknanya agak provokatif karena gue bilang, "terima kasiha tas gol-gol indahnya semalam." Gue juga dulu sempat diproses untuk jadi reporter tabloid bola grupnya gramedia. tes pertama lolos, waktu itu gue nulis tentang inkonsistensi aturan tendangan penalti yang ngerugiin salah satu tim. tapi tes berikutnya, gue kesusahan sama julukan-julukan tim sepakbola yg sebenarnya sih bisa dipelajarin. dan tes selanjutnya, gue nggak dateng. Ah, ya sudahlah. Tapi belakangan ini, gue udah nggak terlalu merhatiin lagi. gara-garaya, bapake si kaka yang terlalu gila bola bikin gue berpikir, ya sudahlah, cukuplah segala sesuatu tentang bola dihidup gue. bapke si kaka tuh, punya selemari baju bola. sementara naju kerjanya? itung aja sendiri dengan jari tangan dan jari kaki. udah jelek-jelek pula. dia lebih seneng beli baju bola ratusan ribu, yang dipakenya mungkin cuma sekali, daripada beli baju kerja. Nah, sekarang, si kaka sudah mulai ketularan. kayanya ini disetting sama bapake. wong masih bayi udah mulai dibeliin baju-baju bola, meskipun jelas-jelas kegedean. alasannya, nanti, buat kaka kalau udah gede. Hasilnya, liat aja sekarang kaka yang seneng banget main bola. kalo liat koran, tabloid, atau majalah, yag pertama kali dia cari pun bola. Kalo liat yang bulet-bulet di pinggir jalan pun, bahkan truk molen yang buat ngaduk semen, dia langsung tereak "Boa...boa...boa...." Kebayang deh hidup gue sepuluh tahun lagi. bola, bola, dan bola.